Daftar isi

Sabtu, 07 Januari 2012

Bercinta dengan perawan - 4

"Ayo Shan kencing saja Shan.... mmmhhhh... enak sekali kencing kamu" gerang Rahman sambil memainkan itil Shanti dengan lidahnya. Shanti tidak berdaya, dan ia tak kuasa menahannya lagi, ia hanya punya pilihan menderita karena menahan kencing atau menerima kenikmatan yang sedang diambang perasaannya.

"Aduh nggak kuat! Aaaaakkkkhhhhh.... mbaaaakkkkk!" Shanti merengek sambil mengocok kontol Rahman yang licin karena lendir. Air seninya meyemprot keluar dari lubang kencingnya, memancar menyemprot wajah Rahman dan Tuti. Panas dan berbau pesing, Tuti memejamkan matanya dan membuka mulutnya sehingga air kencing Shanti masuk kedalam mulutnya dan keluar lagi jatuh kedalam mulut Rahman. Mereka meminum air kencing Shanti yang masih perawan, air kencing yang tidak banyak dan kekuningan tapi sensasinya membuat Rahman melayang, ia merasakan asin dan pahit ketika air kencing gadis itu membasahi tenggorokannya. Tuti malah dengan liar dan lahap meminum dan menjilati air kencing yang jatuh membasahi wajah Rahman kemudian membasahi ranjang mereka, untung Tuti sudah menjaga-jaga, tadi sore ia sudah memasang karpet karet dalam sprei, ia yakin akan terjadi permainan dashyat malam ini dan sekarang terbukti.

Rahman sangat menyukai cairan memek Shanti, ada bau khas seperti punya Tuti tapi ia tetap berpendapat cairan memek Tuti lebih enak dan lebih asin serta kental dan baunya-pun lebih keras daripada punya perawan ini. Rahman merasa kontolnya sudah tak sabar lagi ingin mencari korban, Tuti ingin mengulumnya tapi ia menghindar, ia tidak akan bertahan lama jika dikulum oleh Tuti dan itu membuat Tuti terkikik kegelian.
"Takut? Hi hi hi....." Rahman tersenyum kecut dengan brewok yang berlumuran lendir memek Shanti. Ia menarik Tuti agar menggantikan Shanti. Tuti beringsut. Ia berbisik pada Shanti, gadis itu menggeleng.

"Coba saja Shan, enak bukan main. Memang pertama-tama akan perih tapi kamu akan segera merasa enak...." kata Tuti. Shanti diam dan ia pasrah ketika Tuti pelan-pelan membaringkannya terlentang diatas ranjang yang besar itu. Rahman bangun dan menggumulinya, teteknya dikulum oleh laki-laki itu, tapi remasan Rahman ternyata lembut dan menimbulkan berahi. Padahal tadi Shanti melihat bagaimana laki-laki itu mengulum tetek Tuti, membuat wanita itu meringis. Tapi terhadap dirinya Rahman lembut sekali bahkan Shanti merasa enak sekali teteknya disedot-sedot seperti itu. Lalu ia melihat kebawah dan dilihatnya Tuti merenggangkan pahanya lalu memegang kontol Rahman yang sudah keras seperti kayu. Perlahan-lahan kontol itu turun, tapi sebelum menyentuh memeknya ia melihat Tuti menyelomoti kontol itu sebentar dan itu membuat Rahman menjerit seperti tersentak, wanita itu terkekeh-kekeh senang, lalu Tuti mulai menempelkan kepala kontol Rahman kebibir memek Shanti yang sudah banjir hebat. Pelan-pelan kontol itu mulai masuk sesenti demi sesenti sampai terdengar raungan Shanti.

"Aaakkkhhhhhh...... sakiiitttttt...... uuuuuhhhhhhh mbaaakkkkk...... ampuuuunnnnn....." Shanti merintih keras ketika kontol Rahman mendesak terus, ia berkelojotan sambil berontak. Lalu ia merasa lega ketika kontol itu diam dan pelan-pelan memompa tapi tidak turun lagi, gadis itu meriang mendapati kenikmatan melandanya dengan pompaan yang diberikan Rahman. Shanti mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tuti memainkan itil Shanti membuat Shanti kejang-kejang, lalu Rahman kembali menusuk, kali ini dengan cepat dan keras.

"Aduuuhhhhh..... ampuuunnnn!!!! Sakiiiittttt!!!! Mati aku mbaakkkk!!!!" teriak Shanti histeris ketika merasakan lubang memeknya seolah-olah robek dan meledak, perih bukan main dan panas merayapi tubuhnya. Matanya terbelalak, keringatnya keluar sebesar butian jagung. Jari-jarinya mencakar punggung Rahman, tapi sang kontol sudah tertanam dalam memek Shanti dan Rahman mulai mengangkat perlahan diiringi jeritan Shanti, gadis itu hendak pingsan, sakit sekali, setiap kali laki-laki itu menusuk atau mencabut dirasakannya kenyerian disekeliling memek dan perutnya.
"Tahan Shan, nanti kamu akan keenakan" bisik Tuti.

Setelah beberapa saat, apa yang dikatakan Tuti ternyata benar. Shanti merintih dan mengerang karena kenikmatan. Rahman merasakan hal yang sama pada kontolnya. Ia merasa kontolnya seperti diremas dan dicengkram oleh gadis itu, Rahman benar-benar merasa beruntung, setua ini ia masih mendapatkan perawan! Rahman menghisapi tetek Shanti bergantian dan ia merasakan pentil kecil itu keras dalam mulutnya. Rahman merasa menang karena ia membuat Shanti menjerit dan berteriak histeris terus menerus tatkala gadis itu mendapatkan orgasmenya, dengan Tuti ia tidak pernah menang, memang dulu pertama kali Tuti menjerit-jerit seolah-olah orgasme tapi akhirnya Rahman tahu itu hanya pura-pura saja, Tuti hanya bisa orgasme kalau memek dan liang anusnya dijilati atau dikocok dengan sesuatu, seperti kontol-kontolan yang bergetar atau dildo karet yang berbuku-buku dan Rahman melarang Tuti memberikan rintihan palsu sewaktu mereka sedang bersetubuh, ia tak ingin kepalsuan dan dengan ksatria ia mengakui tidak dapat mengalahkan Tuti, selalu saja ia yang terjerambab kalah.

"Oommhhh.... aduh mbak, aku nggak sanggup lagi mbaak!" Shanti mengeluh, tubuhnya bersimbah peluh dan ia merasa melayang karena lautan kenikmatan yang terus melandanya. Tuti tidak mau mendengarkannya karena wanita itu juga sedang dilanda nafsu yang luar biasa, ia menyurukkan kepalanya dan menjilati liang anus Rahman lalu beberapa saat jika ingin keluar ia mencabut kontolnya dan Tuti segera menyelomotinya dengan kasar supaya laki-laki itu tidak orgasme lalu Tuti akan menyuruk kememek Shanti dan menjilati cairan yang menggenang bercampur dengan darah perawan gadis itu sampai bersih, ia juga menjilati cairan yang mengalir ke liang anus Shanti, ia menghisap dan menelan cairan itu dengan penuh nafsu, baru Rahman memasukkan kembali kontolnya dan memompa Shanti kembali. Tuti juga mencapai orgasme karena merasa terangsang dengan ulahnya, ia merasa seperti binatang, ia merasa seperti budak yang harus membersihkan semua cairan berahi Rahman dan Shanti dan itu membuatnya sangat terangsang.

Lalu Tuti mengatur posisi Shanti, ia menyuruh gadis itu menungging dan Rahman menyetubuhinya dari belakang, sedangkan Tuti menyurukkan tubuhnya kebawah Shanti dan mengemut itil gadis itu sementara Rahman memompa dengan irama pelan. Kali ini Shanti terbelalak dan gemetaran karena kenikmatan yang datang jauh lebih dashyat daripada tadi. Mulut Shanti keluar erangan, ia merasakan itilnya diputar-putar didalam mulut Tuti dan ia merasakan daging yang menyesakkan liang memeknya seperti membuatnya ingin kencing lagi, ia menjerit-jerit histeris dengan tubuh berkelojotan seperti gadis yang tengah sekarat. Dan Shanti seperti gila membenamkan wajahnya keselangkangan Tuti, lidahnya dengan liar mengorek-ngorek liang memek wanita itu dan menjilati cairan kental yang berlumuran disana. Mulut Shanti terasa asin dan tubuhnya terasa lengket oleh keringat.

"Sudah oom... ampun.... aduh..... nggak kuat lagi akuuuu!" jerit Shanti dan ia terkulai menindih tubuh Tuti. Rahman mencabut kontolnya dan dari dalam memek Shanti mengalir cairan encer bening banyak sekali. Tuti dengan lahap menjilati cairan itu bahkan Rahman tak segan-segan menjilati liang anus Shanti dengan penuh nafsu. Kontolnya yang keras bagi baja itu masih tegak perkasa menunggu sesuatu yang dapat dipasaknya. Tuti meremas kontol Rahman sambil menghisap memek Shanti. Kemudian Tuti cepat-cepat mencegah Rahman ketika laki-laki itu hendak mengarahkan kontolnya keliang anus Shanti. Rahman sadar dan buru-buru mengurungkan niatnya. Tuti tidak dapat membayangkan bagaimana Shanti menerima tusukan kontol Rahman diliang duburnya, pasti gadis itu akan meraung-raung kesakitan luar biasa.

"Sekarang giliran aku manis...." desis Tuti. Lalu ia tidur terlentang dan mengangkat kedua kakinya terlipat kewajahnya sehingga memek dan liang anusnya menghadap keatas. Shanti segera menyelomoti liang memek Tuti dengan rakus. Ia mengocok memek Tuti dengan jarinya dan membuat wanita itu berkelojotan, Tuti dapat orgasme bila dengan Shanti karena ia sangat menikmati waktunya dengan gadis itu. Shanti mulai menjilati liang anus Tuti sedangkan wanita itu menyelomoti kontol Rahman. Tuti menyelomoti dengan kasar, ia membiarkan sesekali kontol Rahman mengenai giginya dan Rahman senang karena wanita itu tidak akan membuatnya keluar dengan cepat. Ia tahu keinginan Tuti, ia tahu Tuti ingin dipompa dan Rahman senang sekali. Kontolnya tidak lemas karena ia sangat terangsang melihat keliaran Shanti melumat liang anus Tuti dengan rakus, Rahman sekarang makin bersyukur mendapatkan dua perempuan yang punya nafsu besar, semula ia tidak menyangka gadis muda itu akan mudah didapatkan, ternyata memang Tutilah yang memegang peranan.

"Jilat dalamnya Shan,.... oooh bersihkan... terus.... aduh enak sekali Shan..... emut terus Shan" desis Tuti, Shanti menusuk-nusukan lidahnya diliang anus wanita itu dan sesekali lidahnya terjepit sampai dalam, kemudian ditusuk-tusukannya dan membuat Tuti tersentak-sentak. Kemudian Shanti melihat Rahman mendekati dan mengarahkan kontolnya. Tapi Shanti kaget ketika kontol Rahman pelan-pelan menusuk keliang anus Tuti. Shanti memandang Tuti, dan wanita itu mengedipkan matanya. Tuti mengejan sedikit dan blup! Kontol Rahman melesak masuk kedalam liang itu. Shanti terpana ketika melihat Rahman mengayun maju mundur memompa liang anus Tuti, pompaan yang berirama dan ada lendir yang keluar bersama pompaan kontol Rahman.

"Shan, jilat Shan.... ooohhh.... terus.... aaakkhhhh...." Tuti merasa orgasme ketika melihat dengan tanpa merasa jijik Shanti menjilati lendir yang keluar dari liang anusnya dan bahkan Rahman mencabut kontolnya dan Shanti seperti sudah tahu langsung menghisap dan menyelomoti kontol itu. Shanti sama sekali tidak jijik karena kalau itu liang anus Tuti, apapun diminta Tuti ia akan melakukannya karena Shanti sadar bahwa yang dikatakan Tuti selalu benar. Shanti merasakan cairan asin dan berbau tapi ia menikmatinya. Bahkan beberapa kali ia memaksa kontol Rahman dicabut supaya ia bisa menghisap dan membersihkan cairan lengket keputihan itu. Rahman beberapa kali sudah ingin meledak karena berahi yang mencapai puncak tapi untung setiap kali ada Shanti yang membuatnya mengurungkan ledakan laharnya dan ia tersenyum senang pada Tuti, sedangkan Tuti sudah lebih dari dua kali orgasme karena perbuatan Shanti didepan matanya daripada pompaan kontol Rahman di duburnya. Ia menarik Shanti dan memaksa melumat mulut gadis itu, Shanti membuka mulutnya dan membiarkan cairan keputihan yang baru saja dijilat di liang anus Tuti mengalir jatuh kedalam mulut Tuti. Tuti merintih dan menikmati cairan itu, kemudian mereka saling membelit dan melumat. Tuti menggoyang berirama dan membuat Rahman menggerung seperti binatang terluka.

"Aaarrggghhhh..... gilaaaa!!!!" teriak Rahman.

"Cepat, cepat!" teriak Tuti sambil mendorong Shanti. Seperti sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya Shanti segera menyurukkan wajahnya dan sedikit terlambat ketika Rahman memuntahkan pejuhnya didalam anus Tuti tapi laki-laki itu memaksa mencabutnya dan Shanti segera menangkap dengan mulutnya. Rahman memompanya dalam mulut Shanti seperti orang kesetanan dan cairan yang keluar seperti tidak ada habis-habisnya, Shanti kali ini menelan cairan itu, sebagian disekanya dengan tangannya kemudian disodorkan kepada Tuti dan wanita itu menjilat cairan itu dengan lahap. Rahman berkelojotan seperti akan putus nyawanya, mulutnya mengeluarkan suara seperti orang sekarat. Ia benar-benar puas. Shanti menyelomoti kontolnya dengan ahli sekarang. Ia bisa merasakan jalaran lidah gadis itu menyapu permukaan topi bajanya dan keleher kontolnya yang paling peka, membuatnya melayang-layang dalam perasaan aneh yang membuat tubuhnya panas meriang. Setelah agak lama Rahman tumbang diatas ranjang.

"Aku bisa gila...." desahnya. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkan mengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jerit kenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak perduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh dengan melakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yang diperbuatnya. Shanti betul-betul pembersih, ia membuat liang memek dan anus Tuti berkilat karena jilatannya. Tak ada setetes-pun lendir disana kecuali bekas jilatan-jilatan lidahnya. Shanti puas dengan pekerjaannya. Ia memandang Tuti dengan penuh cinta ketika wanita itu menurunkan kakinya. Tuti merasa kakinya hendak copot karena pegal dan perutnya keram, tapi ia tersenyum letih pada Shanti. Ia membelai kepala gadis itu kemudian mereka saling melumat dan berpelukan dalam senyap, sementara Rahman dengan mulut ter-nganga mendengkur seperti babi.

"Aku cinta sama mbak" bisik Shanti. Tuti tersenyum lembut.

"Aku juga mencintaimu Shan, kamu segalanya buatku" bisiknya.

"Jangan tinggalkan saya mbak" Tuti menggeleng dalam diam. Tidak akan, pikirnya. Tidak akan pernah! Shanti menyusupkan kepalanya di payudara Tuti dan tidur lelap dalam kelelahan.....

* * * * * * * * * *

"Wah segar sekali kamu kelihatannya?" kata Tuti sambil duduk disamping Shanti. Gadis itu sedang melamun diteras belakang rumah Tuti sambil memandang kolam renang. Shanti terkejut sebentar tapi tersenyum manis. Wajahnya bersih dan segar, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan pagi itu Shanti benar-benar cantik sekali. Ia memakai daster warna kuning dengan bunga-bunga kecil di bagian dada.

"Wah mbak juga kelihatan cantik sekali!" seru Shanti. Tak lama kemudian seorang wanita tua yang dikenal dengan mbok Iyem menaruh kopi susu dan roti panggang di meja kecil dihadapan mereka.

"Melamunin semalam ya?" bisik Tuti setelah pembantunya pergi. Shanti mencubit perut Tuti, membuat wanita itu tekikik geli.

"Aaahh mbak! Malu nih...." rengek Shanti. Tuti tertawa lagi.

"Kok malu? Itu biasa kok, semua orang juga pasti melakukannya" kata Tuti sambil menyerahkan kopi susu kepada gadis itu.

"Tapi kan nggak kayak semalam mbak. aku malu dan risih sama mbak...." kata Shanti, ia menghirup kopi susunya. Tuti tersenyum sambil minum juga.

"Aku kan sudah bilang, buat aku sama sekali nggak apa-apa. Malah aku senang sekali kamu juga merasakan kesenangan denganku" jawab Tuti.

"Tetap aku merasa malu, sebab itu kan suami mbak"

"Jangan berkata seperti itu, yang aku inginkan cuma kebahagiaan dan kesenangan kita berdua Shan. Rahman memang sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya, tapi aku juga sangat mencintaimu, kamu kan tahu itu?"

"Tapiii....ah pokoknya entah bagaimana aku nanti kata orang. Bersetubuh dengan suami orang dan bersama pula!"

"Ah mana orang yang tahu? Sudahlah, pokoknya aku merasa sangat bahagia" kata Tuti, ia membelai rambut Shanti. "Apakah kamu tidak bahagia?"

"Aku bukan main bahagianya mbak dan aku juga bingung bagaimana aku harus berterima kasih pada semua kebaikan mbak" jawab Shanti.

"Jangan berkata begitu sayang, aku malah takut kamu menjadi marah padaku karena kejadian semalam keperawananmu hilang" kata Tuti sambil memandang Shanti.

"Ah buatku tidak masalah mbak, yang penting enaaakkk....hi hi hi" Shanti merasa lucu sendiri, ia sama sekali tidak perduli dengan keperawanannya, masa bodo, pikirnya. Aku malah merasa aneh dan sangat ketagihan...

"Masih sakit?" tanya Tuti. Shanti menggeleng.

"Nggak, cuma tadi pagi perih waktu mau kencing. Mbak tidurnya enak sekali ya, tapi kok Oom Rahman udah menghilang sepagi itu?" tanya Shanti.

"Oh itu mah biasa Shan. Bisnisnya terlalu banyak dan seringnya malah jam dua pagi sudah pergi kalau mau keluar negeri" kata Tuti.

"Wah enak dong ya, mbak pasti sudah sering keluar negeri"

"Yah hanya ke Singapura dan Malaysia saja, lainnya belum ada kesempatan" jawab Tuti tertawa "Nanti juga pada saatnya kita akan bisa pergi bersama-sama" lanjutnya.
"Wah tadi pagi mulutku baunya bukan main mbak! Semalam ketiduran padahal belum gosok gigi" kata Shanti sambil cekikikan. Tuti tertawa juga.

"Aku juga! Uekh, aku pengen muntah saja tadi pagi, hi hi hi...." Tuti membuat wajahnya terlihat lucu. "Tapi sekarang sudah nggak lagi kan?" lanjutnya sambil membuka mulutnya dan mendekatkan pada Shanti. Shanti mencium mulut Tuti dan melumatnya.

"Mmmhhh.... sedaapp....." desisnya.

"Udah ah, ntar kelihatan sama si mbok bisa pingsan dia melihat kita ciuman begini" kata Tuti. Mereka tertawa.

"Apakah kamu nggak merasa jijik dengan perbuatan kita semalam?" tanya Tuti ingin tahu. Shanti memandangnya sambil menggeleng.

"Entahlah, aku malah kepengen lagi mbak. Padahal tadi pagi aku berpikir betapa menjijikkannya perbuatan kita semalam, tapi mengapa aku merasa aneh dan terangsang setiap kali membayangkannya?" Shanti memang merasa bingung. Tadi pagi ia merasa risih dan malu sekali mendapati dirinya bangun dari tidur dengan tubuh telanjang bulat diatas tubuh Tuti. Dan ia ingin muntah mendapati mulutnya bau sekali, tubuhnya berbercak-bercak putih seperti kerak dan ia yakin itu pejuh atau lendir Tuti atau bahkan miliknya sendiri.

Tapi anehnya ia malah tersenyum waktu itu dan merasa jantungnya berdebar ketika membersihkan kerak-kerak itu dan merasakan kerak itu menjadi lendir kembali sewaktu kena air. Ia malah mencicipinya lagi sambil membayangkan apa yang dilakukannya semalam. Mungkin kalau menurut adat kampung perbuatannya semalam sudah termasuk katagori gila atau perempuan laknat, bersetubuh dengan suami orang, menciumi anus sesama jenis bahkan menjilatinya, oh itu sungguh bisa menimbulkan masalah yang luar biasa besarnya jika diketahui orang tuanya. Untung orang tuanya berada jauh sekali dari sini.

"Heh! Melamun lagi!" seru Tuti.

"Oh eh...ih mbak ngagetin melulu!"

"Mikirin apa lagi?" tanya Tuti.

"Mikirin semalam kok mbak mau saja sih ditusuk di pantat?" tanya Shanti. Tuti mengerling pura-pura marah.

"Kamu ini jorok ya, pagi-pagi sudah ngomong gituan...."

"Aaaahhh... ayo dong mbak" rengek Shanti. Tuti mencubit pipi gadis itu.

"Ya mau saja, wong buatku enak sekali kok" jawab Tuti.

"Lho? Kan sakit mbak?"

"Ndak lagi, malah aku sering sekali ngecret kalo dientot pantatku" jawab Tuti seenaknya. "Dulu pertama kali memang sakit, tapi lama-lama malah enak, seperti mau berak rasanya. Rasanya mulas sewaktu kontol masuk kedalam sana"

"Astaga! Mbak ih, jorok..."

"Enaakk.... kan kamu dulu yang mulaiin ngomong jorok" Tuti tersenyum genit.

"Sekali-kali aku pengen juga dientot disana mbak" kata Shanti tiba-tiba.

"Nanti juga kesampaian, dan kamu bisa ketagihan nanti. Apalagi kalau kita dientot dari depan dan belakang, wah rasanya semua laki-laki jadi budak nafsu kita. Kita bisa mati keenakan Shan!" kata Tuti. Shanti melotot.

"Gila! Masak ditusuk dari depan dan belakang?" Tuti baru mendengarnya lagi.

"Iya, dulu sekali aku pernah dientot 6 laki-laki Shan. Satu menusuk pantatku sambil nungging, sedangkan aku mengentoti kontol laki-laki dibawahku dengan memekku dan mulutku dientot dua kontol, dan dua kontol lagi mengentoti ketekku, wah aku merasa seperti mesin pejuh Shan, mereka semua menyemburkannya dimulutku, dipantatku, di memekku, diketekku, ditetekku, diperut, dikaki, dipaha, diwajah serta dirambutku!" Cerita Tuti kebablasan. Shanti tegang sekali sehingga napasnya memburu. Ia terkejut mendapati Tuti begitu berpengalaman dengan laki-laki.

"Emang dulu mbak....."

"Ya aku dulu pelacur Shan. Pelacur idaman setiap laki-laki, bukan sombong, tapi penghasilanku dulu besar sekali. Karena aku selalu memuaskan setiap laki-laki dan aku selalu menuruti apa yang mereka inginkan. Kamu akan tahu laki-laki itu punya fantasi yang gila Shan. Mereka kebanyakan membayangkan kita-kita ini seperti binatang peliharaan mereka....." cerita Tuti lagi. Shanti tegang mendengarkan.

"Dan kebetulan aku juga maniak seks, jadi aku juga merasa enak sekali, nafsu berahiku besar sekali Shan. Dulu aku begitu menghayati pekerjaanku, bayangkan saja, sudah dientot enak dapat uang pula!" lanjut Tuti.

"Mbak hebat sekali! Aku tidak pernah membayangkan mbak jadi pelacur lho!" seru Shanti.
"Sssttt.... pelan-pelan dong, kedengaran orang mati aku!" desis Tuti. Mereka tertawa.
"Tapi ada juga nggak enaknya, tapi umumnya aku puas dengan apa yang kuhasilkan dulu dan sekarang lebih enak lagi. Mendapatkan suami kaya dan gadis cantik seperti kamu yang......." Tuti menggantung kalimatnya.

"Yang apa?"

"Ah nggak jadi deh....."

"Aaahhh ayo doongg......"

"Yang siap dientot dan mengentot!" bisik Tuti. Shanti menjerit sambil mencubiti Tuti, mereka saling cubit mencubit sambil cekikikan. Tuti memang merasa bersyukur bukan main dengan keadaannya sekarang, tapi Shanti juga sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya sekarang. Jadi kurang apa lagi?

"Ehh mbak, nanti malam kalo Oom Rahman pulang kita lakukan hal yang semalam yuukk...?" kata Shanti memecahkan lamunan Tuti.

"Ahh.... kamu masa sih tadi malam belum puas??"

"Aaahhh.... ayo doongg.... mbak khan Shanti mau ngobain dientot lewat anus, seperti mbak semalam?"

"Memangnya kamu udah siap dientot dipantat?? tanya Tuti meragukan perkataan Shanti."

"Aku khan mau nyobain mbak, abis Shanti lihat semalam mbak sangat keenakkan sihhh.....?"

"Shan apa kamu engga takut sama kontolnya Oom Rahman? Khan kontolnya Oom Rahman besar sekali. Nanti anusmu bisa jebol lohhh.....!!!?" kata Tutu meyakinkan kesungguhan Shanti.

"Engga aku sama sekali engga takut, masa kontol itu di anus mbak bisa masuk di anus Shanti engga bisa??"

"Yaa bisa sihhh....., tapi pertama-tama musti sedikit dipaksakan, dan lagi waktu pertama kali masuk wahhh.... sakitnya bukan main lohh...?"

"Tapi abis itu enak khan mbak??"

"Iya sih, yaa kurang lebih sama lah waktu kamu kesakitan semalam, malahan bisa lebih sakit ke anus?"

"Pokoknya Shanti mau nyoba, tapi mbak ajarin yaa....!!!" Shanti memohon ke Tuti.

"Yaa udah bersiaplah nanti malam?"

* * * * * * * * * *

Waktu terus berlalu, akhirnya malam-pun tiba. Shanti dan Tuti keduanya menunggui Rahman di ruang tamu. Mereka duduk-duduk disana sambil makan kue-kue kecil. Akhirnya pada jam 9.20 terdengar suara klakson mobil.

"Shan itu Oom Rahman pulang?" teriak Tuti.

"Ayu mbak kita kedepan membukakan pintu?" kata Shanti sambil beranjak dari duduknya.

Lalu Tuti-pun mengikutinya dari belakang. Setelah Rahman memarkir mobilnya di garasi, Tuti menutup pagar, lalu mereka bertiga masuk kedalam. Ketiganya langsung menuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Tuti.

Sesampainya disana Rahman langsung mencopot pakaiannya, terus ia beranjak ke kamar mandi untuk mandi. Sementara itu Shanti menunggunya dengan hati berdebar-debar. Sambil menunggu Rahman mandi, Tuti menyetel film biru. Shanti semakin terangsang melihat adegan-adegan pada film tersebut. Ia merasakan itilnya berdenyut-denyut, puting susunya mengeras. Melihat perubahan wajah dari gadis tersebut, Tuti yang sangat berpengalaman langsung saja melumat bibir gadis itu. Perlahan-lahan Tuti mulai melepaskan pakaian Shanti. Gadis itu malah ikut membantu mengangkat pantatnya ketika Tuti melepaskan pakaiannya. Lalu setelah ia melepaskan pakaian gadis itu, ia-pun segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya mereka berdua telanjang diatas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang-pun. Bibir mereka saling melumat, tangan mereka saling meraba bagian-bagian sensitif, sehingga membuat mereka lebih terangsang.

Pada saat rangsangan mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba Rahman keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk yang menutupi kemaluannya. Segera saja kedua perempuan tersebut menyambut Rahman, mereka melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu Shanti dengan rakus langsung mengemut kontol laki-laki tersebut. Sementara itu Tuti sibut menjilati buah zakarnya. Lalu Tuti mengajak mereka semua pindah keranjang. Kemudian Rahman mencium belakang telinga Shanti dan lidahnya bermain-main di dalam kupingnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Shanti mengeliat-geliat. Mulut Rahman berpindah dan melumat bibir Shanti dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut gadis itu dan menggelitik-gelitik lidahnya.

"Aaahhh..., hmmm..., hhmmm", terdengar suara menggumam dari mulut Shanti yang tersumbat oleh mulut Rahman. Mulut Rahman sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Shanti turun ke leher, kepala gadis belia itu tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Rahman, payudaranya yang kecil mungil tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki setengah baya tersebut.

Bersambung . . .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar