Daftar isi

Jumat, 06 Januari 2012

Istriku - Swinging

Hampir dua bulan telah berlalu sejak kami mengundang Ronny, dan malam itu, sehabis makan malam, ketika kami sedang bersantai, sementara anak anak berada dikamar masing –masing, tiba tiba saja istriku berkata “Pah...emmmh....” ia tak meneruskan ucapannya,
“ada apa..yang....? ”tanyaku, dan istriku mendekatkan bibirnya di telingaku lalu berbisik “ Pah.....kapan ngajak orang ‘main’ lagi, ....papa sih...... jadi kepingin lagi nih.” Lalu dengan wajah agak memerah ia mencubit pahaku, lalu ia meneruskan “nngg....tapi sekali ini kalau sampai jadi yang diajak sepasang ya ?, kalau bisa suami istri juga” Anita, istriku melanjutkan ucapannya.

Aku agak tersentak mulanya,...dan mencoba dengan santai bertanya “ Kok...., hayo... jelasin apa imaginasi kamu ... .?”
“Iya..., mainnya tukeran ..gitu.., dengan wajah yang semakin memerah istriku menjawab lirih.., lalu lanjutnya “ Kan asyik juga kali ya melihat papa main sama wanita lain sementara suaminya main denganku”.
“Nanti kamu marah..., kan kamu dasarnya pencemburu..., nanti kalau lihat papa main dengan wanita lain, trus kamu ngambek kan repot...” kataku menjawab pernyataannya.
“Nggak lah..., malah kayaknya jadi horny deh kalau ngebayangin...,” istriku menjawab cepat dan setelah itu dengan rona wajah agak malu ia menggigit bibirnya

Dengan jantung berdegub kencang, bayangan bisa menggauli wanita lain dan istriku mengizinkan membuatku menjadi bersemangat, lalu aku bertanya “Kira kira siapa yang mau diajak ?, kamu punya gambaran nggak ?,
“Ah..terserah papa aja,buat mama sih bukan orangnya kok, kan cuma nikmati aja, yang penting bersih .” jawab istriku sambil matanya mengerling kearahku.
“oke...jawabku.....,” tapi terus terang papa belum punya orang yang siap..., sabar ya nanti ku cari dulu yang pasangan mau dan cocok, ya yang ?” jawab ku sambil menciumnya.

Malam itu kami berhubungan dan bayangan ‘rencana’ yang hendak dilakukan membuat permainan kami sedemikian hot, lidah Anita menelusuri setiap jengkal tubuhku, dan sebaliknya akupun juga memberikan pelayanan yang total dengan segala pengetahuan dan pengalaman yang kumiliki.

Yang paling mengesankan adalah pertanyaan – pertanyaan yang diajukan istriku justru saat ia sedang memberikan kenikmatan yang luar biasa, seperti, saat ia sedang menjilati dan sesekali memasukan bijiku kedalam mulutnya, tiba tiba ia berhenti sejenak lalu bertanya “Kalau mama melakukan pada cowok lain boleh...?” lalu tanpa menunggu jawabanku ia meneruskan gerakannya, sungguh menggemaskan namun juga meningkatkan imaginasiku yang otomatis membuatku semakin terangsang, atau saat lidahnya ‘mampir’ kebelakang dan ujung lidahnya menusuk anus ku yang membuatku geli dan berdesis, ia bertanya lagi “Kalau gini...., boleh...?”, dan itu membuatku tak tahan, kemaluanku berdenyut dahshyat untuk kemudian dengan memegang kepalanya saat mulutnya sedang menghisapku, air maniku menyembur dalam mulut mungilnya yang dengan seluruh kemampuannya dicoba untuk ditelan dan baru melepaskan kemaluanku setelah menyusut dalam mulutnya.

Masih dengan titik – titik air maniku di ujung bibirnya, ia merangkak naik diatas tubuhku, berjongkok tepat di atas wajahku dan mendesah..”Jilatin..pa...ayo.. jilatin..., dan lidahkupun menari nari diseluruh wilayah pribadinya itu, digerakannya pinggulnya kearah mana ia ingin dijilat, dan sesekali dimintanya aku mengeraskan ujung lidahku lalu masih dalam posisi jongkok ia menekan kan pantatnya dan lidahku sedikit menerobos anusnya, beberapa kali ia melakukan itu dan akhirnya dengan teriakan tertahan ia melepaskan klimaxnya.

Entah berapa lama waktu yang kami habiskan untuk bermain 3 ronde penuh dan akhirnya kami terlelap setelah habis habisan ‘menguras’ tenaga dan tentu saja air maniku.

Dua minggu lamanya aku ubek ubekan mencari partner swinging itu, dan akhirnya dari salah satu club yang kudaftar di internet aku berhasil menjalin kontak dengan sepasang suami istri yang usianya sedikit dibawah kami.

Bermula dari email akhirnya aku dan suami dari pasangan itu melakukan kontak telepon yang dilanjutkan dengan lunch di salah satu restaurant di Jakarta Selatan.

Akhirnya, pada hari dan jam yang ditentukan aku tiba ditempat tersebut, dan beberapa saat kemudian aku sudah berhadapan dengan seorang laki laki, atletis, tampan dan terlihat sangat berpendidikan. “Budi” katanya sambil menjabat tanganku dan akupun memperkenalkan diri.

Sambil makan siang kami berdiskusi, menceritakan diri masing masing sambil memperlihatkan foto-foto istri kami masing - masing, dan dalam waktu singkat kami menjadi akrab.

Kulihat ia sangat terkesan dengan kecantikan istriku, sementara dari foto yang kulihat, istrinya juga cukup menarik dengan tinggi dan bentuk badan proporsional.

Pertemuan itu kami lanjutkan beberapa kali lagi dan akhirnya kami sepakat menentukan hari dan tempat pertemuan.

Hotel HT Jakarta Selatan Jum’at Pk. 19.00

Tepat pada waktu yang direncanakan aku dan istriku akhirnya tiba di Hotel, mengambil kunci di receptionist dan langsung menuju kamar yang sudah kureservasi sejak sehari sebelumnya,

Dikamar yang luas, karena memang aku memesan yang agak besar ukurannya, sambil menunggu Budi dan istrinya, aku duduk santai sambil menikmati segelas bir, sementara istriku berada di toilet sekaligus merapihkan dandanannya, dan sekitar 10 menit kemudian telpon berdering “Hallo.., mas, aku dibawah ..., kutunggu di lobby ya”, suara Budi terdengar jelas, “Oke.., kujemput kebawah.., tunggu ya”, aku membuka pintu kamar madi dan melihat Anita sedang mematut matut diri didepan cermin, “Ma...papa kebawah dulu ya,.. mereka sudah tiba, ada di lobby,”, dan tanpa menunggu jawaban istriku aku bergerak keluar kamar menuju lift.

“Wina”, suaranya merdu dan walau busana maupun dandanan yang dikenakannya tidak terlalu terbuka namun terlihat anggun dan menarik, mungkin wajahnya tidak secantik Anita, namun jelas terlihat kalau ia memiliki payudara dengan 1 ukuran diatas istriku, aku juga membalas perkenalannya, dan kemudian kami melangkah menuju lift.

Dalam kamar, setelah saling berkenalan, kami duduk santai mengobrol tentang beragam hal, tentang pekerjaan secara umum, anak anak, dan lainnya sambil menikmati minuman yang kami pesan, suasana semakin cair dan santai lalu dan akhirnya obrolan kami memasuki beragam hal tentang dunia swinger.

Budi dan Wina sudah beberapa tahun menjalani kehidupan itu, memang tidak terlalu sering, namun mereka juga merasakan perubahan setelah mencoba beberapa kali, suasana dan hubungan keseharian menjadi semakin mesra, perasaan bangga kepada pasangan masing masing semakin tinggi dan yang pasti kepercayaan antar mereka semakin kuat tanpa ada keraguan kepada pasangan masing – masing.

“Permisi sebentar ya..aku mau ke toilet dulu...ah....” Wina berdiri dan berjalan, beberapa langkah sebelum mencapai pintu toilet Budi nyeletuk “ Cuci yang bersih..ya.., biar wangi...”, dan sambil mengerling dengan wajah yang dibuat cemberut Wina memasuki toilet.

Budi mengedipkan mata kepadaku dan mengerti dengan apa yang dimaksudkannya aku berkata kepada istriku “Mah..duduk sana dong..., biar nanti kalau Wina keluar duduk disamping papa”, dan tanpa menunggu lagi Anita berpindah posisi dan kini duduk disamping Budi, yang lalu mengembangkan tangannya merangkul istriku.

Tanpa aba-aba tiba-tiba mereka sudah berciuman, saling memagut dan lidah merekapun sudah saling membelit, seakan akan tidak ada orang lain disekitar mereka.

“Klik”, aku mendengar pintu terbuka dan Wina sudah berada disampingku “Wah...nyuri start nih ya...” katanya. Istriku dan Budi lalu melepaskan ciuman mereka dan menjawab..”Istri Mas Frans ini cantik sih...aku jadi nggak tahan...” jawabnya seenaknya, lalu bibirnya kembali memagut bibir istriku dan ‘meneruskan’ ciuman mereka yang panas itu.

Aku merasa sebuah tangan memegang pahaku dan ketika aku menoleh wajah Wina hanya beberapa centimeter dari wajahku, dan tanpa komando lagi bibir kami sudah saling melekat, terasa lidahnya yang panas menerobos masuk dalam rongga mulutku dan tidak mau kalah akupun memberikan hal yang sama.

Ketika aku melirik..., payudara istriku sudah menyembul dari bajunya yang sudah acak acakan dan putingnya sedang asyik dilumat oleh Budi, sementara tangan istriku sudah memasuki retsleting celana Budi.

“Pindah yuk...ke ranjang...” bisik Wina ditelingaku dan tanpa melepaskan bibir kami bergerak kearah satu satunya ranjang king size ditengah ruangan.

Tak lama kemudian istriku dan Budi juga menyusul.

Hanya dalam hitungan detik barangkali, kami semua sudah tidak ada lagi yang mengenakan sehelai benangpun, Kemaluan Budi hampir sama besar dengan miliku namun badanya lebih langsing, sementara seperti yang kuduga, payudara Wina lebih besar dari istriku yang berukuran 36 B itu, mungkin 38..?, puting istriku lebih muda warnanya dari punya Wina, dan kulit istriku sedikit lebih putih.

Tampak olehku Budi kini telentang dan setelah mendapatkan kehangatan dari lidah istriku yang menelusuri mulai dari bibir, leher, dada dan perutnya, akhirnya kemaluan laki laki itu sudah berada dalam mulut mungil istriku yang dengan lembut dihisap, dijilat dari pangkal hingga kepala nya dan kembali dihisapnya, sementara tangannya yang satu mengusap dan memainkan buah zakarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar