Daftar isi

Senin, 09 Januari 2012

The Bitches – 4

Aku baru tersadar saat kudengar pula suara desahan halus. Aku membuka mataku. Aku melihat dari dekat. Aku melihat wajah Bu Retno dengan sangat jelas. Ternyata Bu Retno telah sepenuhnya memelukku dan mencium serta melumat bibirku.
“Jeng Mariniii.., oohh Jeeeng.., Jeng Mariniii, kamu cantik sekali.., saya sangat merindukanmu Jeeeng.., saya selalu merindukan Jeng Mariniii”.
Aku kini baru sadar sepenuhnya. Rupanya kungkungan serigala-serigala lapar dari kantor suamiku tak kunjung habis-habisnya. Dan kini aku berada di pangkuan serigala betina tua yang sangat kelaparan. Yang mampu memainkan peranannya dengan sedemikian hebat hingga aku terjatuh di pangkuannya sebagaimana yang sedang berlangsung saat ini. Dan tiba-tiba aku kembali merasakan getaran libidoku yang tak mampu kutahan.

Aku sangat menikmati lumatan bibir Bu Retno yang sangat lembut ini. Bu Retno, dekaplah aku lebih erat lagi. Aku juga selalu mengagumimu selama ini. Aku selalu terpesona akan kecantikan dan kelembutanmu. Dengan penuh kesadaran, kini tanganku meraih kepala Bu Retno dan menekan lebih lekat bibirnya ke bibirku. Aku membalas lumatannya dengan penuh birahi. Dan bermenit-menit kemudian kami saling melumat dan mendesah-desah. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi rasa malu, kekhawatiran dan ketakutan. Kini yang ada adalah dua anak manusia berjenis kelamin perempuan yang sedang bersama-sama mengayuh kenikmatan birahi sesaat untuk mendapatkan kepuasan biologis seksualitasnya.

“Bu Retno, aku juga selalu mengimpikan saat-saat seperti ini bersama Ibu. Aku selalu memendam birahi pada Bu Retno yang selalu tampil cantik, Bu”.
Bu Retno tidak menjawabnya dalam kata-kata. Tangannya langsung menyusup ke blusku, meremas payudaraku dan memainkan jari-jarinya pada putingku. Aku menggelinjang menerima kenikmatan darinya. Aku cenderung menyerahkan diriku sepenuhnya untuk memenuhi kehausan birahi Bu Retno.
“Jeng, ampuunnn nikmatnya Jeng Mariniii.., oohh..”, Racau Bu Retno sambil tangannya seakan dikejar setan mulai melucuti seluruh blusku.
Dan secepatnya pula dibenamkannya wajahnya ke dadaku. Bibir dan lidahnya menyedot dan menjilati payudaraku beserta putingnya yang kemudian juga merambah terus hingga ke lembah ketiakku.

“Jeng Marini, kamu cantik sekali.., aku rasanya bersedia jadi budakmu Jeng Marini.., biarkan aku memandikan Jeng Marini dengan lidahku. Aku akan sangat menikmati keringat-keringatmu Jeng. Ooohhh..”.
“Aku bersedia menceboki nonok dan pantat Jeng Marini setiap hari selesai membuang beban pagimu, sayang…”.
Begitulah Bu Retno meracau tak karuan sambil terus menjilati putingku. Tangan kanannya bergerilya ke pahaku. Dielusnya pahaku dengan penuh kegemasan. Kemudian berpindah ke selangkanganku. Dicari-carinya celana dalamku. Dielusnya celana dalamku yang lembab oleh keringat. Dia gosokan tangannya seakan hendak memindahkan lembab celana dalamku ke tangannya itu. Kemudian dia cari tepiannya. Dia susupkan jari-jarinya agar menjangkau kemaluanku. Aku tergetar dengan hebat saat jari-jarinya menyentuh bibir vaginaku. Aku mendesah.

“Bu Retnooo, aku merinding…”.
Bu Retno memandangku nanar penuh arti.
“Jeng, kita pindah ke ranjang, yuk”.
Dia membimbingku untuk pindah ke ranjangnya yang indah itu. Aku didorongnya hingga tergolek diatas seprei sutra yang sangat lembut di ranjangnya yang besar. Bu Retno langsung menindihku. Kembali dia melumat bibir, leher, dada, puting dan bahkan ketiakku. Birahiku menyala terbakar berkobar-kobar. Aku menikmati kepasrahanku untuk melayani hausnya nafsu Bu Retno. Kenikmatan ini membawaku melayang terlempar dalam alun birahi samudra lepas. Aku menutup mataku sambil merasakan Bu Retno yang sedang melucuti rok, BH maupun celana dalamku hingga aku benar-benar telanjang bulat. Kemudian Bu Retno juga melucuti pakaiannya sendiri.

Kami saling memeluk dan bergulingan tanpa pakaian selembarpun yang menghambat. Saling sedot, saling gigit, saling cakar dan saling menjilat. Kurasakan betapa rakus dan binalnya perempuan ini. Umurnya yang hampir 2 kali umurku sama sekali tidak mempengaruhi semangat birahinya untuk meraih kepuasan seksualnya.

Dia sekarang merosot ke selangkanganku. Dia sangat obsessive dalam mencium dan menjilati nonokku. Lidahnya berusaha agar sejauh-jauhnya menjilat ke dalam vaginaku. Diangkatnya pantatku hingga pahaku terlipat menempel di dadaku. Kemudian dibenamkannya kembali lidahnya ke liang vaginaku sambil sesekali menyapu bibir kemaluanku dan mengisap kelentitku. Melihat anusku yang merah ranum, lidahnya pun berusaha menjangkaunya. Agar lebih memudahkannya, kuangkat lebih tinggi lipatan bokongku.

Bu Retno ingin agar aku mengubah posisi. Dia berbisik dengan penuh getar birahi. Ungkapannya dalam kata-kata yang sangat “erotis, seronok, jorok, tak senonoh”, merupakan ungkapan betapa dorongan birahinya telah didominasi oleh bentuk kenikmatan nafsu birahi hewaniah yang telah sedemikian rupa merendahkan martabat, harga diri serta penampilan kesehariannya yang istri boss besar dan putri ningrat yang cantik dan ayu. Bisikan itu diucapkannya dengan sedemikian gamblangnya walaupun masih terdengar terbata dalam suara yang serak karena gelora birahinya.
“Jeng, nungging, yaaahh.., A..ku p.., penasaran dengan lubang tt.., tai Jeng Marini. Aku pengin menciumi sepuas-puasku. Aku ingin mengendus tai Jeng Marini.., lidahku ingin merasakannya. Kk.. kalau Jeng mauu, aku juga mauma..kan tt.., ta…”.
Aku sudah tidak lagi mendengar lanjutannya. Betapa vulgar dan tak senonohnya. Di telingaku, kata-kata Bu Retno menjadi sensasi erotik yang langsung mendongkrak birahiku. Aku sedemikian terhanyut dan meliar mendengar kata-kata yang di keluarkan dari bibir putri ningrat yang cantik dan ayu itu. Aku mengikuti keinginannya. Aku menungging setinggi-tingginya. Dan kini aku benar-benar menjadi obyek Bu Retno untuk menyalurkan naluri dan sifat hewaniahnya. Lidahnya mencuci habis-habisan lubang pembuanganku yang sangat ranum ini. Aku sungguh tenggelam dalam gairah dari kata-kata pujaan seronok Bu Retno tadi. Pada kesempatan berikutnya, kulihat bagaimana dengan sangat histeris, jari-jari tangannya di masukkannya ke liang vaginanya sendiri dan dikocoknya. Rupanya Bu Retno benar-benar sedang tersiksa oleh gejolak birahinya sendiri.

“Enak, Jeng. Enaaak..”, racau histerisnya.
Kemudian dia berubah menjadi sangat liar. Di gulingkannya tubuhku. Ditelentangkannya aku. Dia kembali menyeruak ke tengah selangkanganku. Kembali disedotnya vaginaku. Kembali digigitnya bibir vagina dan kelentitku. Kedua pahanya menjepit paha kananku. Jempol dan jari-jari kakiku yang berada tepat di bibir vaginanya dia bayangkan seolah penis lelaki. Dia gosok-gosokkannya vaginanya ke jempol jari kakiku. Dan kemudian dimasukkannya ke lubang vaginanya sendiri. Bu Retno mengentot jempol kakiku, benar-benar seperti serigala betina yang kelaparan.
“Enak, Jeng. Enaaak sekali Jeng”.
Kemudian kulihat tubuhnya mulai meregang seakan dialiri listrik ribuan watt. Tubuhnya mengejang. Pahaku dicakarnya dan kukunya seakan hendak ditanamkannya ke daging pahaku. Saat itu juga aku langsung meraih rambutnya. Kujambak dan kuelus secara berbarengan. Akhirnya Bu Retno memperoleh orgasmenya. Dia berteriak histeris tanpa mempedulikan kemungkinan bahwa suaranya akan terdengar oleh para pembantunya. Nafasnya terus memburu saat kurasakan kedutan-kedutan nonoknya yang beruntun disertai cairan hangat dari lubang vaginanya yang menyirami jari-jari kakiku.
Akhirnya tubuhnya rebah. Dia lepas semua pegangan tangannya dari tubuhku. Dia tergolek kelelahan. Tetapi dari wajahnya nampak senyum penuh kepuasan. Kini ganti aku yang blingsatan. Serbuan histeris Bu Retno telah membuatku terjerat tanpa mampu lagi menghindar dari seretan nafsu birahiku.

Aku melihat Bu Retno telentang, dan kuperhatikan juga bibirnya yang ranum dan seksi itu. Aku merunduk ke wajahnya. Kujilat sesaat bibir itu, kemudian kukulum dengan sepenuh nafsu birahiku. Bu Retno tidak merespons lumatan bibirku. Mungkin saking lelahnya. Tetapi aku justru sangat menikmati kepasifan dan kepasrahannya itu. Kusedot mulutnya yang terus mengalirkan ludah yang tak habis-habisnya dari kelenjar air liurnya. Kemudian dengan leluasa, kuciumi tubuhnya yang sangat wangi alami itu. Kucium dan kujilati ketiaknya yang berbulu lembut hingga kuyup oleh ludahku. Kusedot juga payudaranya yang besar membukit. Seperti layaknya bayi, kuisap puting-putingnya. Kuciumi perutnya yang lembut, kusedot pusarnya. Kuisap pula jembutnya yang samar-samar itu. Kemudian aku menyeruak ke selangkangannya. Kubuka lebar-lebar pahanya untuk kutenggelamkan wajahku ke selangkangannya.

Kutemukan kelentitnya di antara bibir vaginanya. Kelentit yang tumbuh menjepit liang vaginanya itu sedemikian besar dan mengeras oleh tekanan darah yang naik ke urat-uratnya. Bibir vagina dan kelentit itu kukulum dan kuisap demi memuaskan kehausan bibir dan lidahku. Cairan vaginanya yang membasah setelah orgasmenya tadi masih mengalir dari liang nonoknya. Aku tak tahan untuk tak menciuminya. Kubenamkan bibirku hingga kuyup oleh cairannya. Kujilat dan kunikmati rasa sedap dan gurihnya cairan Bu Retno. Aku semakin menggila. Aku ingin menirukan apa yang telah dilakukan Bu Retno kepadaku. Kujepit paha kanannya dengan kedua pahaku. Kumasukkan jari-jari kakinya ke lubang kemaluanku. Kupompakan ke dalamnya. Kubayangkan jari-jari kaki Bu Retno yang seakan penis lelaki. Kubayangkan kontol Basri yang sebesar pentungan itu sedang menembus memekku. Aku menjadi lupa diri.

Sambil terus menjilati nonok berbulunya, pantatku naik turun semakin cepat mengentot jari-jari Bu Retno. Makin cepat. Dan akhirnya datang juga. Rasa kencingku kemudian mendesak dan langsung meluap ke permukaan. Cairan birahiku menyembur-nyembur membasahi kaki Bu Retno. Aku ngos-ngosan hingga tetes terakhir cairanku tumpah. Aku langsung rebah ke samping tubuh Bu Retno.

Beberapa saat kami masih terlena , hingga terdengar ketukan halus di pintu. Serta merta aku menarik seprei sutra ranjang itu untuk menutupi tubuhku. Bu Retno sendiri bangun dengan tenangnya, masih dalam keadaan telanjang berjalan menghampiri pintu. Dia mengintai dari lubangnya. Kemudian pelan-pelan dibukanya pintu. Aku sungguh-sungguh terkejut. Surti…, dia adalah Surtiku. Dia sempat melihatku sekilas sebelum Bu Retno membuatku lagi-lagi terkejut.., dia langsung memeluk dan menciumi leher serta bibir Surti. Sekali lagi aku terkejut, ternyata Surti nampak telah terbiasa.

Aku akhirnya tahu. Daya analisisku dengan cepat menangkap makna apa yang kini sedang terjadi di depan mataku. Semua ini ternyata adalah sebuah konspirasi erotis antara Surti dengan Ibu Retno. Ini bukanlah sebuah kebetulan.
Kehadiran Surti di rumahku adalah awal skenario konspirasi mereka. Surti bertugas melakukan kondisioning. Surti mengkondisikan dan memastikan bahwa aku bisa digauli oleh istri bossnya, tempat dimana dia mengabdi. Aku kemudian dapat dengan jelas melihat “asap dan api”-nya. Ah, dasar serigala-serigala betina.

Kini kulihat Bu Retno dengan sangat tergesa-gesa mulai melucuti pakaian Surti. Dilemparkannya begitu saja pakaian Surti ke lantai. Celana dalam dan BH Surti sengaja ditinggalkannya. Walaupun baru kemarin selama hampir seharian penuh aku menggumuli Surti, tetapi belum bosan-bosannya aku mengagumi indahnya tubuh Surti. Dadanya yang bidang dengan buah dadanya yang sangat besar dan ranum itu sungguh mengundang birahi bagi siapapun yang melihatnya, bahkan untuk sesama wanita sekalipun. Pantatnya yang sintal membukit terhubung dengan pahanya yang sangat kokoh sensual, hingga membuat khayalku terbang jauh ke langit kenikmatan birahi. Dan dengan melihat betisnya itu, aku tak bisa berhenti dari keinginanku untuk terus menjilatinya.


Ke bagian 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar