Daftar isi

Senin, 09 Januari 2012

Princess Sandra Dewi-2

Pak Sanjaya melihat pintu kamar mandi yang ditutup, tanda bahwa seseorang ada didalamnya. Sementara Lei sedang berdiri diluar pintu kamar mandi itu

“How is it, Lei?” tanya Pak Sanjaya.
“Dia sudah siap untuk dipakai kapan saja. Untung dia bisa lancar berbahasa Inggris.” jawab Lei.
“Lho, kenapa kamu berbahasa Indonesia? Bukannya kita sepakat berbahasa Inggris?” tanya Pak Sanjaya heran.
“Bukannya sudah saya bilang untuk tidak mengungkit-ungkit masa lalu saya?” ketus Lei dengan dingin.
“Sudah! Anda siap-siap saja dengan Mr. Wang, nanti baru kita selesaikan urusan kita. Saya sudah menyuruh Sandra untuk bercakap-cakap dengan bahasa Inggris, supaya Mr. Wang terbiasa.” Tutur Lei.
“Sempurna! Persiapkan dirimu juga, Lei. Pakai pakaian seperti biasanya!” Pak Sanjaya tampak puas dengan jawaban Lei dan memerintahkan Lei untuk mempersiapkan dirinya. Lei segera beranjak mengambil sebungkus seragam berwarna hitam dan masuk ke kamar mandi.

Pak Sanjaya kembali keluar menemui Mr. Wang sambil menunggu tanda siap dari Lei. Beberapa menit kemudian, ponsel Pak Sanjaya berbunyi.

“We’re ready.” Ujar Lei dari balik pintu kamar itu. Tanpa menunggu lama, Pak Sanjaya segera mempersilahkan Mr. Wang untuk masuk ke kamar itu. Mereka melihat Lei yang sudah berganti pakaian. Penampilan Lei yang tadinya tampak kaku dengan baju sekretarisnya yang formal kini berubah total, ia tampak amat sensual dengan pakaiannya itu yang menonjolkan seluruh keseksiannya yang terpendam.
Lei kini memakai sebuah bra yang tidak memiliki penutup payudara sehingga payudaranya yang lumayan besar menyembul keluar dan sehelai celana dalam g-string berwarna hitam. Lei juga memakai stocking hitam dari sutra. Rambut Lei diikat membentuk ekor kuda sementara bibirnya dilapisi lipstick hitam. Kacamata Lei sudah dilepas dan ia tampak memakai kontak lens berwarna hijau.

Lei segera mempersilahkan Mr. Wang untuk duduk di ranjang dan meminumkan sebutir obat kuat kepada pria tua itu. Mr. Wang segera menelan obat berbentuk pil itu. Sambil menunggu obat itu bereaksi, Lei berdiri dihadapan Mr. Wang dan Pak Sanjaya.

“OK, now for the main course…” Ujarnya pelan sambil berjalan ke pintu lemari yang masih tertutup.
“Gentlemen, I present you Ms. Sandra Dewi!” seru Lei sambil membuka pintu lemari itu lebar-lebar.

Seketika itu pula mata kedua pria itu membelalak saat melihat seorang pengantin wanita yang amat cantik sedang berdiri didalam lemari itu. Lemari hotel yang besar itu memang lebih dari cukup untuk menampung tubuh Sandra apabila semua isinya dikeluarkan. Sandra tampak masih memakai gaun pengantinnya seperti yang dikenakannya tadi, hanya riasan wajahnya tampak diperbarui, namun tidak menggantikan bentuk riasan awalnya. Tangan Sandra tampak menyilang memegangi kedua payudaranya, wajahnya memerah, nafasnya tersengal-sengal dan tubuhnya tampak gemetar.

Lei beranjak mundur untuk memberi ruang bagi Sandra. Sandra lalu keluar dari lemari itu dan berjalan kehadapan ketiga orang itu. Pak Sanjaya puas saat melihat ekspresi wajah Sandra. Mata Sandra tampak sayu dan bibirnya tak henti-hentinya menghembuskan nafas yang berat, persis seperti wanita yang sedang dilanda nafsu birahinya.

“A bridal gown? I never thought you’ll give her a costume like that! It suits her!” komentar Mr. Wang melihat penampilan Sandra yang berbusana pengantin.
“Sure is! She’s a bridal model in Indonesia, so nothing fits her better than a wedding dress!” jelas Pak Sanjaya yang menerangkan latar belakang Sandra sebagai seorang model gaun pengantin yang cocok untuk berbusana pengantin.

“Hyah!” jerit Sandra saat Lei mendadak merangkul pinggangnya. Lei mendekatkan wajahnya ke wajah Sandra sambil menjulurkan lidahnya. Dijilatinya jenjang leher Sandra dengan pelan. Sandra hanya merintih pelan merasakan rasa geli yang ditimbulkan oleh jilatan Lei.

“Mistress…” terdengar panggilan pelan Sandra untuk Lei, seperti seorang budak pada majikannya.
“What?” tanya Lei.
“Give me orders, Mistress… hhh…” Sandra tampak terhanyut seperti orang mabuk. Ia meminta Lei untuk memberinya perintah, kini ia lebih tampak seperti seorang budak seks.

“You said she’s a good girl?! What are you giving her? She looks like a slut to me!” bisik Mr. Wang penasaran melihat tingkah laku Sandra, seolah tidak percaya bahwa Sandra adalah gadis baik-baik, seperti yang diceritakan oleh Pak Sanjaya..
“Just a dose of some strong sex drugs and some training from Lei.” Jawab Pak Sanjaya sambil mengutarakan bahwa Sandra sudah direcoki dengan berbagai obat perangsang sehingga kesadaran Sandra benar-benar lenyap dan sepenuhnya dikuasai oleh nafsu seksnya akibat pengaruh obat-obat itu.
“Really?” tanya Mr. Wang setengah tidak percaya.
“Watch this. I’ll show you.” Balas Pak Sanjaya yang hendak membuktikan ucapannya

“Sandra!” panggil Pak Sanjaya.
“Y…yes?” Sandra tampak melihat kearah panggilan Pak Sanjaya itu.
“Who are you now?” tanya Pak Sanjaya pada Sandra.
“I’m your sex-slave, boss… You’re my master and Mistress Lei is my Mistress… I’m yours…” beber Sandra yang mengakui bahwa dirinya tidak lebih dari budak seks milik Pak Sanjaya dan Lei.
“Please… give me orders… pleasee… Master…” pinta Sandra terbata-bata akibat pengaruh obatnya itu.

“Should I undress her, Master?” tanya Lei menawarkan untuk melucuti pakaian Sandra.
“No let her wear that dress. She looks pretty like a princess.” Perintah Mr. Wang sambil memuji kecantikan Sandra yang bagaikan seorang putri.

“Mmm!” tiba-tiba Lei memeluk tubuh Sandra dan memagut bibir pengantin cantik itu. Suara Sandra kini teredam oleh ciuman dari Lei. Lei segera melingkarkan tangannya kepinggang Sandra sambil meremas pantat Sandra. Kedua wanita itu saling berciuman selama beberapa menit. Pak Sanjaya dan Mr. Wang bisa melihat bagaimana Lei menjelajahkan lidahnya memasuki mulut Sandra dan menjilat-jilat bibir Sandra yang merah merekah, sementara Sandra menampung dan mereguk ludah Lei yang tertuang didalam mulutnya.

Pemandangan itu tampak amat kontras, seorang pengantin wanita cantik bergaun putih yang tampak suci kini sedang digeluti oleh seorang perempuan berpakaian serba hitam seperti wanita nakal dan murahan. Mereka saling memagut bibir pasangannya seolah mereka benar-benar saling mencintai. Namun perpaduan kekontrasan kedua wanita itu tampak elok dan merangsang kedua pria tua itu.

“Hahh…” Sandra bernafas lega sesaat setelah Lei berhenti memagut bibirnya. Lei meraih dagu Sandra dan menyelipkan sesuatu kedalam mulut Sandra.
“Thank you… Mistress…” Sandra berterima kasih pada Lei.

“That was good. Now, ask Mr. Wang to turn you on.” Perintah Lei pada Sandra.
“Yes, mistress…” jawab Sandra pelan.
Sandra segera berjalan menuju arah Mr. Wang sambil tersenyum. Sesampainya dihadapan Mr. Wang, Sandra segera membungkukkan tubuhnya seolah memberi hormat dan berlutut dihadapan Mr. Wang yang masih duduk di sofa.

“She’s got something for you. Show your hands, Wang.” Ujar Pak Sanjaya. Mr. Wang segera menegadahkan tangannya dihadapan Sandra. Sandra memposisikan wajahnya dihadapan tangan Mr. Wang. Perlahan-lahan, dikeluarkannya sebutir kapsul dari mulutnya dan diletakkannya kapsul itu ditangan Mr. Wang. Kapsul itu tampak berkilat dan basah dengan air liur Sandra.

“What’s this?” tanya Mr. Wang bingung.
“Please insert it in me…” tiba-tiba Sandra memegang tangan Mr. Wang dengan manja sambil melirik rok gaunnya, meminta Mr. Wang untuk memasukkan kapsul itu kedalam tubuhnya. Mr. Wang agak bingung, namun Sandra sudah keburu menarik tangan pria tua itu kearah ranjang. Sandra segera mengangkat roknya dan menaiki ranjang itu dalam posisi merangkak.

Sandra menarik rok gaunnya hingga ke pinggang. Celana dalamnya yang putih tampak basah dan kini terpampang jelas dihadapan Mr. Wang. Sandra pun menggoyang-goyangkan pantatnya untuk menggoda Mr. Wang yang mulai terpengaruh oleh obat yang diminumnya.

“Pleasee… Master… insert it into my pussy… Sandra loves it!” celoteh Sandra sambil mengedipkan matanya seperti seorang pelacur murahan, meminta Mr. Wang untuk memasukkan kapsul itu kedalam vaginanya.
Sandra menunggingkan tubuhnya dihadapan Mr. Wang, sementara Pak Sanjaya membetot celana dalam Sandra kesebelah kiri sehingga vaginanya terpampang dihadapan kedua pria tua itu. Mr. Wang awalnya agak ragu, namun kapsul itu akhirnya dimasukkannya kedalam vagina Sandra dan jarinya segera mendesak kapsul itu masuk kebagian vagina Sandra yang terdalam.

“Ah!” Sandra menjerit kecil saat jari-jari kasar Mr. Wang mendesak masuk kapsul itu hingga sedalam mungkin di vaginanya. Wajahnya agak tampak agak cemas saat Mr. Wang menarik keluar jarinya.

“Now, watch the show!” seru Pak Sanjaya sambil mendekati Mr. Wang. Mereka berdua lalu duduk dibelakang tubuh Sandra yang masih menungging. Selama beberapa menit awal, tampak tidak ada perubahan dengan Sandra, namun beberapa menit kemudian, Sandra tampak mulai mengeluarkan desahan pelan.

“Bagaimana?” tanya Pak Sanjaya pada Sandra.
“It’s melting… ooh…” tubuh Sandra tampak mulai berkeringat, sementara pinggulnya tampak bergetar. Kapsul itu terasa meleleh didalam vaginanya. Perlahan-lahan tampak cairan seperti busa berwarna agak putih mulai meleleh keluar dari vagina Sandra.
“Heegh… aah…” kembali terdengar suara desahan dari bibir Sandra, sementara badannya mulai bergetar. Sandra berusaha meresapi sensasi ransangan akibat kapsul itu.

“Kyah!” Sandra tiba-tiba menjerit saat Pak Sanjaya mencolek-colek vaginanya yang basah itu.
“She’s ready. But let’s play with her for a little while.” Usul Pak Sanjaya pada Mr. Wang untuk mempermainkan Sandra. Mr. Wang mengangguk senang tanda setuju.

“Lei, help us! Play with her panties!” perintah Pak Sanjaya pada Lei untuk mempermainkan celana dalam Sandra. Lei mendekati Sandra dan berlutut dibelakang tubuh Sandra. Celana dalam Sandra dipilinnya sehingga berbentuk mirip seperti G-string. Bentuk tali itu diselipkan kecelah vagina Sandra dan celana dalam itu segera digerakkan maju-mundur oleh Lei dengan cepat sehingga menggosok-gosok kewanitaan Sandra.

“Aah! Oh! Mistress!” jerit Sandra saat gesekan itu menimbulkan rasa sakit yang bercampur rasa geli di kewanitaannya. Karena celana dalam itu dihiasi oleh renda-renda, maka gesekan renda itu juga sesekali menggesek klitorisnya. Sehingga tubuh Sandra terasa tersetrum oleh kenikmatan. Lei dengan giatnya menggesek-gesek vagina ‘budak’nya itu dengan ritme yang berganti-ganti. Saat merasa Sandra akan orgasme, Lei segera menghentikan gesekannya itu atau memperlambat gesekannya dengan drastis. Akibatnya, Sandra semakin kepayahan karena orgasmenya gagal tercapai, apalagi dengan rasa nikmat yang menjalari pinggulnya akibat efek kapsul perangsang yang ditanamn kedalam vaginanya oleh Mr Wang.

“Aahh… pleasee… no moreee… Haaahh…” desah Sandra dengan keras menahan gejolak orgasmenya.
“If you wanna cum, you have to beg!” bentak Lei pada Sandra agar Sandra memohon padanya.
“Y…yes… pleasee… let me cum! Mistress!! Pleasee!” pinta Sandra memohon orgasmenya dengan putus asa. Lei melirik kearah Mr. Wang sejenak.
“She’s all yours! Do as you wished!” ujar Pak Sanjaya memberi izin kendali sepenuhnya pada Mr. Wang.
Mr. Wang tampak tersenyum dan mengangguk. Sementara Pak Sanjaya merebahkan dirinya di sofa sambil menghisap cerutu kesayangannya.

“OK, Master said you can cum.” Ujar Lei pada Sandra tentang izin orgasme dari Mr. Wang.
“Thank you… ooh…. thank you… Mas… ter… AAAHGHH!” Belum sempat Sandra menyelesaikan kalimatnya, Lei sudah menggesekkan celana dalamnya dengan kasar dan cepat hingga menyentuh klitoris Sandra. Tubuh Sandra pun ikut bergerak-gerak liar akibat rasa geli yang nikmat karena gesekan renda celana dalamnya sendiri.

“Aah… aagh… aaghhh… AAAH!” Sandra akhirnya menjerit keras saat orgasmenya melanda seluruh simpul syarafnya. Semua rasa nikmat itu benar-benar meresap hingga kedalam sumsum tulangnya akibat reaksi tambahan dari obat yang dikonsumsinya itu. Tubuh Sandra menegang kaku dan otot-otonya serasa mengeras saat gelombang kenikmatan orgasmenya melanda sekujur tubuhnya.

Tak pelak, tubuh Sandra pun roboh keatas ranjangnya itu setelah tubuhnya terasa lega. Nafas Sandra terdengar memburu kelelahan. Sekujur tubuh Sandra yang baru terbebas dari orgasmenya itu terasa lelah, namun anehnya otak Sandra masih merasa ingin meraih kenikmatan yang lebih dalam lagi.

Sandra mendongakkan kepalanya sejenak dan dilihatnya Mr. Wang sedang melucuti seluruh pakaiannya. Mata Sandra membelalak tidak percaya melihat bentuk tubuh Mr. Wang yang sesungguhnya. Walaupun sudah tua, rupanya tubuh Mr. Wang kekar berotot dan padat. Otot bisepnya tampak mencuat dengan urat-urat yang menonjol. Padahal saat mereka bertemu tadi siang, penampilan Mr. Wang tampak ringkih dan lemah, seperti orang yang sudah tinggal menunggu ajalnya saja. Sandra sama sekali tidak menduga kalau dibalik kemeja dan jas formal yang menutupi tubuh Mr. Wang, tersembunyi badan kekar bak binaragawan.
Sandra semakin tertegun saat melihat kemaluan Mr. Wang yang sudah sepenuhnya menegang, penis besar itu tampak tegak dan agak kemerahan. Urat-urat kemaluannya tampak jelas menonjol.

Mr. Wang segera naik keatas ranjang itu dan berlutut dihadapan wajah Sandra. Penis raksasanya itu kini sudah menggantung dihadapan wajah Sandra. Mata Sandra tampak berbinar saat melihat penis Mr. Wang dihadapannya.

Lei mendudukkan dirinya disamping Sandra dan ia pun segera beraksi, diraihnya penis Mr. Wang dan dipermainkannya penis itu dengan tangannya. Penis Mr. Wang diurut dan dikocok-kocok oleh Lei. Sementara Sandra tampak termangu melihat majikannya itu memainkan penis Mr. Wang dengan lihainya.

“Sandra, play with Master’s balls.” Perintah Lei sambil mengangkat batang penis Mr. Wang keatas sehingga kantung zakar Mr. Wang kini terpampang jelas.
“Yes, mistress…” Sandra segera mendekati penis Mr. Wang. Perlahan-lahan, Sandra membuka mulutnya dan melahap kantung zakar Mr. Wang. Dikulumnya kedua buah zakar Mr. Wang dan dikenyotnya dengan lembut, sehingga Mr. Wang merasa ada sensasi pijatan yang nikmat dikedua buah zakarnya itu.

“Good…” gumam Mr. Wang saat merasakan nikmatnya kehangatan mulut kedua wanita itu pada penisnya. Lidah Lei menari-nari menjilati kepala penisnya sambil mengocok lembut penis Mr. Wang naik-turun. Sementara kenyotan Sandra pada kedua buah zakarnya, kehangatan mulut Sandra dan kelembutan bibir pengantin cantik itu merangsang gairah Mr. Wang yang kian memuncak.

“Mmm… mmh…mmh…” gumam Sandra pelan sambil mengemuti dan mempermainkan kedua buah zakar Mr. Wang. Sesekali dibelainya kantung zakar Mr. Wang dengan lidahnya, seperti yang sudah diperintahkan dan diajarkan oleh Lei. Sandra sesekali melihat majikannya yang tampak senang menjilati penis Mr. Wang. Lei tampak tersenyum sambil menjilati penis itu, seolah penis itu adalah es krim. Lidah Lei yang menjulur tampak membelai-belai pangkal penis Mr. Wang sehingga Mr. Wang semakin merasa nikmat. Sandra merasa penasaran dan heran dengan tingkah majikannya itu. Lei yang biasanya diam dan dingin kini seolah-olah menjadi orang lain yang berbeda drastis, ia tampak aktif penuh semangat dan ceria.

Lei sedikit menoleh dan melihat wajah Sandra yang tampak ingin menjilati penis Mr. Wang itu. Lei lalu sedikit bergerak menyamping seolah memberi ruang bagi Sandra.
“Take it, you want to taste it too, right?” tanya Lei memberi kesempatan pada Sandra. Sandra mengangguk senang dan langsung melepas kulumannya dari buah zakar Mr. Wang dan merebut penis Mr. Wang dari Lei. Sandra segera menjulurkan lidahnya dan kini ia ikut menjilati penis Mr. Wang.
Melihat aksi Sandra, Lei tidak mau ketinggalan. Dengan sigap, Lei melahap pinggiran penis Mr. Wang dari samping.dan memijat batang penis Mr. Wang dengan bibirnya. Kedua wanita itu tampak berebutan untuk mengoral penis Mr. Wang. Mr. Wang tersenyum melihat pemandangan itu, bagaimana dua wanita cantik; seorang pengantin muda yang cantik dan seorang pelacur yang seksi sedang berebut untuk mengulum penisnya.

“Wonderful…” gumam Mr. Wang.
Sandra tiba-tiba melahap kepala penis Mr. Wang, seolah menyatakan kalau kepala penis itu adalah bagiannya. Diemutnya penis itu dengan lembut sambil menjilat-jilati ujung penis Mr. Wang.
“Mmm…” gumam Sandra seperti sehabis mencicipi makanan yang enak sekali.
“Good! You like it? Sandra?” ujar Mr. Wang sambil membelai kepala Sandra dengan pelan. Sandra mengangguk senang sambil tersenyum.
“Not bad…” puji Lei pada Sandra.
“But you’re still not good. Look at this!” tiba-tiba Lei mendorong kepala Sandra kebelakang sehingga kuluman Sandra terlepas. Lei lalu kembali mengajari Sandra, ia segera memasukkan penis Mr. Wang kedalam mulutnya. Ujung penis Mr. Wang dipencetnya dengan erat, sementara kepalanya digerakkan maju-mundur untuk menjemput penis raksasa itu.
“How is it, Master? Mmm…” Lei menanyakan pendapat Mr. Wang sambil menghisap kepala penis Mr. Wang dengan kuat.

“Good… oooh… you’re good, Lei!” puji Mr. Wang. Lei melepas penis it sesaat dan membelai penis itu dengan jari-jarinya. Lei lalu menggosok-gosok penis itu ke pipinya sambil tersenyum riang.
Sandra tampak merengut, ia segera menyambar pangkal penis Mr. Wang dengan mulutnya sebelum Lei sempat memasukkan penis itu kembali kedalam mulutnya. Kekontrasan pola mengulum antara Lei yang sudah mahir dan berpengalaman dengan Sandra yang masih pemula membuat Mr. Wang benar-benar merasa keenakan.

Lei menyingkir sejenak memberikan kesempatan bagi Sandra untuk mengoral penis Mr. Wang. Lei segera memposisikan tubuhnya disamping Sandra dan menyusupkan tangannya kedalam gaun bagian dada Sandra. Lei dengan lembut memijat payudara kanan Sandra sambil memencet puting Sandra dengan pelan.

“Hmm… ach… auh! Mmm… Mis… tress…” Sandra menggumam sambil merintih pelan karena pijatan-pijatan lembut Lei yang semakin membuat gairahnya bergejolak. Mr. Wang juga tidak ketinggalan, tangannya ikut bergerak meremas payudara Sandra bagian kiri dengan keras. Diperlakukan sedemikian rupa, Sandra semakin terhanyut dengan sensasi yang ia rasakan di dadanya.

Selama beberapa saat, Sandra terus mengoral penis Mr. Wang, namun sama sekali tidak terlihat tanda-tanda Mr. Wang akan mencapai klimaksnya. Sandra menduga bahwa itu karena obat yang diminum oleh Mr. Wang.
Tubuh Sandra terasa terbang kelangit ketujuh karena rasa nikmat akibat pijatan Lei dan Mr. Wang di payudaranya dan denyutan vaginanya yang kian basah akan cairan cintanya yang meleleh keluar bercampur dengan obat perangsang vagina yang mencair dan menimbulkan kotraksi otot vaginanya. Mr. Wang pun tidak jauh berbeda, semakin lama, ia merasa semakin terangsang akibat pengaruh obatnya itu. akhirnya pengaruh obat itu memuncak hingga keubun-ubunnya.

“Oohm… enough… Sandra…” pinta Mr. Wang kepada Sandra untuk menghentikan kulumannya itu sambil menggeser kepala Sandra menjauhi penisnya. Sandra dengan berat hati melepas kulumannya pada penis itu. Kini penis Mr. Wang sudah seutuhnya basah dengan ludah Sandra dan Lei. Mr. Wang berhenti memijat payudara Sandra dan beranjak kearah belakang tubuh Sandra yang masih menungging itu.

“Jay, I want to use her body.” Ujar Mr. Wang memberi syarat pada pak Sanjaya.
“You only paid for 1 virginity, Sir. Which one do you want? Her vagina or her ass? Tanya Pak Sanjaya memberikan pilihan pada Mr. Wang. Sandra merasa sedikit lega sejenak mendengar ucapan itu, berarti Mr. Wang hanya bisa memakai salah satu diantara vagina atau pantatnya saja, namun anehnya Sandra juga sedikit merasa kecewa dengan keputusan itu.

“I take her vagina!” Jawab Mr. Wang.
“Then, it’s all yours, sir!” balas pak Sanjaya sambil mengepulkan asap cerutunya.
“OK, master. Please!” timpal Lei mempersilahkan Mr. Wang untuk memulai aktifitasnya.

Mr. Wang segera berlutut dihadapan pantat Sandra, sementara Lei dengan sigap menghentikan pijatannya di payudara Sandra. Ia lalu mengulurkan tangannya kearah selangkangan Sandra dan membuka bibir vagina Sandra dengan kedua jarinya, sehingga lubang vagina Sandra tampak jelas dihadapan Mr. Wang.
Perlahan-lahan, Sandra bisa merasakan kepala penis Mr. Wang dihadapan bibir vaginanya. Semakin lama bibir vagina Sandra semakin membuka perlahan-lahan menerima penis Mr. Wang sebelum tiba-tiba….

“AAAKH!” Sandra menjerit keras dan kepalanya mendongak keatas saat merasakan rasa perih yang tak terkira menyengat vaginanya, seolah ada besi panas yang dicolokkan kedalam vaginanya. Rasa sakit itu membuat bulu kuduknya berdiri, belum pernah ia merasakan sakit seperti itu sebelumnya.

Penis Mr. Wang berhasil melakukan penetrasinya kedalam vagina Sandra, sekaligus merenggut keperawanan pengantin cantik itu. Sandra tampak terengah-engah sambil merasakan kesesakan dalam vaginanya yang kini tersumbat oleh penis Mr. Wang itu.

Mr. Wang tidak menunggu lama lagi, segera digerakkannya tubuhnya maju-mundur sehingga vagina Sandra terhentak-hentak terhunjam oleh penis Mr. Wang.
“Sakit! AH! ADUH! IT… IT HURTS!” jerit Sandra dengan pilu, namun Mr. Wang yang sudah dilanda nafsu tidak mempedulikan jeritan kesakitan Sandra. Ia sibuk memompa penisnya maju-mundur didalam vagina Sandra.

“NOO! AAH! PLEASEE…” Sandra memohon-mohon pada Mr. Wang untuk diberi kesempatan menghilangkan rasa sakit akibat diperawani itu, namun Mr. Wang sama sekali tidak bergeming, ia terus menunggangi Sandra tanpa rasa kasihan. Walaupun vagina Sandra sudah basah oleh cairan cintanya, bukan berarti bahwa ia juga terbebas dari rasa sakit akibat penetrasi penis lelaki di vaginanya untuk pertama kali. Air mata Sandra pun bercucuran menahan rasa sakitnya.
“Shut up! You’ll feel better soon! Bitch!” hardik Mr. Wang.

Pak Sanjaya yang melihat Sandra yang tampak kesakitan segera memberi isyarat pada Lei. Lei segera beraksi, ditahannya tubuh Mr. Wang dengan telapak tangannya.

“What are you doing?!” bentak Mr. Wang yang marah. Namun Lei dengan tenang memeluk pundak Mr. Wang.
“Master, please be gentle with Sandra. She’s still a virgin just now, don’t be harsh to her.” Pinta Lei dengan sopan pada Mr. Wang untuk memperlakukan Sandra dengan lembut.
“May I join too, master? I’ll help you to prepare her.” tanyanya dengan manis. Melihat senyum Lei, kemarahan Mr. Wang agak mereda.
“OK” jawab Mr. Wang memberi izin.

Lei menggerakkan jarinya merogoh vagina Sandra yang masih tersumbat dengan penis Mr. Wang. Jari telunjuknya mencari celah untuk memasuki belahan vagina Sandra.

“Ah! Aaa…” Sandra merintih kecil saat Lei berhasil memasukkan jari telunjuknya kedalam belahan vagina Sandra. Dengan diam-diam, Lei menyelipkan sebutir kapsul perangsang vagina yang tadi digunakan oleh Sandra. Kapsul itu ditekannya hingga masuk kedalam liang vagina Sandra yang sempit akibat dipenuhi penis Mr. Wang.
“Hgyah!” Sandra terhenyak sejenak saat merasakan ada sesuatu yang kecil kini terbenam dalam vaginanya.
“Other dose of sex drug, eh? I see…” gumam Mr. Wang saat merasakan kapsul itu didalam vagina Sandra.

Dengan pelan, Lei mulai menggerakkan jari-jarinya mempermainkan vagina Sandra. Jari telunjuknya menari-nari didalam vagina Sandra sementara jarinya yang lain sibuk mengocok vagina Sandra. Gerakan Lei mulai menimbulkan rasa geli dan nikmat yang menggantikan rasa sakit Sandra akibat kebrutalan Mr. Wang.

“Aah… Mmm… Mistress…” Sandra mulai mendesah pelan akibat rasa nyaman di vaginanya itu.
“Feeling good?” tanya Lei pada Sandra.
“Y… yes… aahn… its… good… Mistress…”
Lei terus merangsang vagina Sandra selama beberapa saat untuk membiasakan Sandra dengan penis Mr. Wang. Setelah merasa Sandra telah siap untuk menerima gerakan Mr. Wang, Lei segera memberi isyarat.

“She’s ready now, Master. Try her.” Lei mempersilahkan Mr. Wang untuk kembali memulai pompaannya dalam vagina Sandra. Mr. Wang segera menarik mundur pinggulnya sejenak sebelum menggerakkan pinggangnya maju dengan mendadak, sehingga penisnya menghentak dasar vagina Sandra.

“AAH!” jerit Sandra pelan, namun anehnya, kini vagina Sandra tidak terasa perih sama sekali, memang masih tersisa sedikit rasa sakit, namun ada rasa geli dan nyaman yang bercampur menimbulkan sebuah sensasi yang baru.

Mr. Wang mempercepat tempo pompaannya, sementara Lei terus mempermainkan vagina Sandra dengan jarinya, sehingga kini Sandra terjerat dalam sensasi rasa nikmat persetubuhannya dengan Mr. Wang. Vaginanya kembali mengeluarkan busa putih beserta cairan cintanya, membasahi penis Mr. Wang, jari-jari Lei dan sprei ranjang itu, sementara suara tumbukan tubuh Mr. Wang dan Sandra terdengar jelas diruangan itu.

“Aach… Awwh… Awh…” Sandra terus mendesah-desah kenikmatan. Dari raut wajahnya, sudah jelas kalau Sandra sudah benar-benar tenggelam dalam jeratan nafsu birahinya. Pak Sanjaya tersenyum, inilah saat yang tepat untuk melanjutkan permainan Sandra ketahap berikutnya.
“Lei, get some toys!” perintah Pak Sanjaya. Lei mengentikan permainan tangannya di vagina Sandra. Dilihatnya jari-jari lentiknya sudah berlumuran dengan cairan cinta Sandra. Lei segera meraih koper hitam yang tadi dibawanya dan mengeluarkan sesuatu. Benda itu tampak seperti sebuah kalung mutiara dengan butiran mutiara yang luar biasa besar berdiameter sekitar 1 cm. Mutiara-mutiara itu tampak terjalin dengan seutas benang tebal dan pada ujungnya ada sebuah plat besi bundar yang ditempeli cincin kecil. Lei menyusupkan jarinya ke cincin itu dan kembali mendekati Sandra yang masih terhempas-hempas oleh pompaan Mr. Wang.

“Excuse me, sir.” Pinta Lei dengan sopan sambil berlutut disamping Mr. Wang. Mr. Wang sama sekali tidak menghiraukan Lei, ia sendiri sibuk memompa tubuh Sandra dengan penisnya. Dengan cekatan, Lei mencegat pinggang Sandra sejenak dan menaikkan pinggang Sandra sehingga pantat Sandra semakin menukik dan penis Mr. Wang semakin terbenam didalam vaginanya. Melihat “kalung” ditangan Lei, Mr. Wang seolah mengerti dan menghentikan pompaannya.

“Oooh… Mis… tress?”
“Calm down… this will be good…” ujar Lei menenangkan Sandra.

Lei perlahan-lahan membuka celah pantat Sandra sehingga lubang pantat Sandra terlihat jelas. Lei lalu mengoleskan cairan cinta Sandra ke sekitar lubang pantat Sandra dan beberapa butir mutiara kalung itu sebelum mengarahkan sebutir mutiara ke lubang pantat Sandra.

“Huah… AAH!” Sandra menjerit saat Lei menekan masuk mutiara itu kedalam pantatnya. Mungkin karena licin akibat cairan cinta yang dioleskan oleh Lei, sebutir mutiara itu tergelincir masuk dengan gampangnya kedalam pantat Sandra.

“W… what is that?! My ass!! No!!! Aah…” jerit Sandra saat mengetahui bahwa pantatnya dimasuki oleh sesuatu. Namun sebelum sempat berontak, Mr. Wang sudah kembali memompa vagina Sandra.
Lei dengan santai memanfaatkan momentum pergerakan pinggang Sandra, setiap kali Mr. Wang menarik vagina Sandra kearahnya, Lei memposisikan sebutir mutiara dalam posisi yang dekat dengan lubang pantat Sandra, sehingga sesekali mutiara itu tenggelam otomatis kedalam pantat Sandra saat Mr. Wang menarik tubuh Sandra.

Tidak terasa sudah 4 butir mutiara yang kini tertanam didalam anus Sandra. Mutiara-mutiara itu menimbulkan sensasi aneh diperut Sandra. Wajahnya tampak tersiksa sekaligus menikmati sensasi mutiara dildo itu didalam pantatnya. Perutnya terasa sedikit geli saat tubuhnya bertumbukan dengan Mr. Wang.

“Huaagh… Aach…” Sandra tampak melenguh-lenguh antara tersiksa dan terhanyut dalam sensasinya itu. Wajahnya tampak sensual dengan mata yang sayu dan air liur yang mengalir disamping bibirnya yang terbuka sedikit mengeluarkan desahan-desahan penuh kenikmatan.

“HAH!” kembali Sandra menjerit bersamaan dengan terbenamnya mutiara kelima dildo itu kedalam anusnya. Kini yang tersisa hanya 3 butir mutiara dildo yang masih belum dimasukkan kedalam anus Sandra.
“There are still room for more, your ass is deeper than I thought…” gumam Lei agak kagum. Ia tidak menyangka kalau pantat Sandra yang tampak kecil itu ternyata mampu menampung lebih dari 5 butir mutiara dildo yang berukuran lumayan besar.

“Pleasee… ach… noo… more… ahaaah!” pinta Sandra terbata-bata sambil dipompa oleh Mr. Wang.
Tanpa menghiraukan permohonan Sandra, Lei menghimpitkan mutiara keenam dan ketujuh dan memaksakan memasukkan kedua butir mutiara itu kedalam anus Sandra.

PLUP! PLUP! “KYAAAH!! HAAA!!” suara jeritan pilu Sandra mengiringi suara terbenamnya kedua mutiara itu secara bersamaan. Kini pantat Sandra sudah dipenuhi dengan tujuh butir mutiara itu. Tidak terbayangkan bagaimana tersiksanya Sandra karena tekanan dalam vagina dan anusnya bersamaan.
Air mata Sandra meleleh membasahi pipinya karena rasa sakit di pantatnya itu.

“Oogh… Lei… She’s getting tight… I can’t hold much longer” ucap Mr. Wang saat merasakan dinding vagina Sandra yang kian menyempit menghimpit penisnya. Mr. Wang semakin mempercepat gerakan pinggulnya.
“You may cum inside her, Master.” Jawab Lei
“Ooh… yes… aagh… cum in me… Master…” sambung Sandra yang memohon agar Mr. Wang berejekulasi didalam tubuhnya.

“OK. Here I go… little Princess… Eergh…” Mr. Wang menggeram sejenak dan segera membenamkan penisnya sedalam mungkin kedalam rongga vagina Sandra.
“Hng… aah!!” Sandra mendesah saat sperma hangat Mr. Wang terasa menyembur kedalam vaginanya. Tubuhnya langsung terkulai lemas sambil terengah-engah mengambil nafas.
Mr. Wang mencabut penisnya dari vagina Sandra, penis yang masih tampak menegang tampak berkilat dan ada lelehan sperma diujungnya. Ia lalu menoleh kearah Lei, yang dengan sigap segera menyambar penis Mr. Wang dan menghisap-hisap sisa sperma itu dengan giat untuk membersihkan penis itu.

“How is it?” tanya Mr. Wang pada Lei.
“Good… I like it, Master…” jawab Lei pelan sambil menghisap-hisap penis Mr. Wang.

Setelah penisnya bersih dari sperma, Mr. Wang merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak. Namun Sandra dan Lei tampak masih terhanyut dengan gairah seksual mereka. Kedua wanita itu mulai beraksi sendiri. Lei merangkak kearah Sandra yang masih terbaring mengangkang diatas ranjang itu. Lei lalu memposisikan tubuhnya dalam posisi merangkak terbalik diatas tubuh Sandra, sehingga vagina Sandra yang becek terpampang dihadapan wajah Lei. Kedua wanita itu pun kini berada dalam posisi ‘69’, dengan Lei berada diatas tubuh Sandra.

“Lick it.” Perintah Lei sambil menurunkan pinggulnya dan membenamkan wajah Sandra divaginanya. Sandra segera membetot tali G-string hitam Lei dan mulai menjulurkan lidahnya menjilati vagina majikannya itu. Lei melebarkan paha Sandra sehingga vagina Sandra terkuak dihadapannya. Lei bisa melihat sperma Mr. Wang yang masih tersisa disekitar vagina Sandra. Tanpa pikir panjang, Lei langsung mengecup bibir vagina Sandra dan menghisap-hisap sisa sperma Mr. Wang divagina Sandra.

“Ooh… mmmh…” desah Sandra saat lidah Lei bergerak-gerak lembut didalam vaginanya. Rasa geli yang nikmat langsung menyebar disekitar daerah selangkangan Sandra. Terdengar pula suara decakan Lei yang sibuk menjilati dan menghisap vagina Sandra.

Sandra membenamkan lidahnya sedalam mungkin kedalam vagina Lei sambil menjilati rongga-rongga vagina Lei.
“Hssh… aah…” Lei mendesis saat lidah Sandra menyentuh klitorisnya. Sandra segera menyentil-nyentil klitoris Lei sambil memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya kedalam vagina Lei. Sandra kini mengocok vagina Lei dengan kedua jarinya itu.

“Hhh… ooh… ach… Sandra…” Lei mendesah-desah kecil saat jari-jari lentik Sandra yang masih terbungkus sarung tangan satin memasuki liang vaginanya dan mengocoknya maju mundur. Rasa lembut akibat sarung tangan satin itu memberi kenikmatan tersendiri bagi Lei yang merasa lebih geli dan nyaman dengan kocokan jari Sandra.
“Aah… aach… awww….” Lei kembali menggelinjang dengan erotis diatas tubuh Sandra saat Sandra mengecup dan mengisap-isap klitorisnya. Sensasi yang diberikan oleh jari dan lidah Sandra semakin membenamkan Lei ke awang-awang.

“HAAAKH….” tiba-tiba Lei melenguh keras sambil mendongakkan kepalanya. Tubuh Lei melengkung indah keatas, sementara vaginanya menekan wajah Sandra dengan keras.
“Hyah?!” Sandra menjerit terkejut saat vagina Lei memuncratkan cairan cintanya dengan mendadak tepat di wajah cantik Sandra, sehingga wajah Sandra basah kuyup. Bahkan sebagian cairan cinta Lei menyembur mengenai mata Sandra.
“Oh… ohh… oohhh…” Lei mendesah-desah pelan untuk menghirup udara, sementara selangkangannya membenamkan seluruh wajah Sandra. Sandra merasa sesak karena wajahnya tertutupi oleh selangkangan Lei, namun Sandra menggerakkan lidahnya untuk menjilat-jilati vagina majikannya yang baru saja mencapai orgasme yang hebat.

Setelah orgasmenya mereda, Lei membalikkan tubuhnya sehingga wajahnya dan wajah Sandra kini berhadapan. Lei lalu menatap wajah Sandra yang cantik itu, tampak mata Sandra agak kelilipan karena tersembur cairan cinta Lei.
“Here, pretty girl. Let me clean your beautiful eye.” Ujar Lei sambil menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilati kelopak mata dan bulu mata Sandra.
“Ah… mmm… Mistress…” Sandra terlihat kegelian saat matanya dijilati oleh Lei. Lei pun semakin gemas dengan ekspresi Sandra. Dengan sigap, dikecupnya bibir Sandra dan mereka pun berciuman dengan mesra.

Adegan lesbian yang diperagakan kedua wanita itu rupanya membangkitkan gairah Mr. Wang. Kakek tua itu kembali bangkit dan mendekati kedua wanita yang masih saling bergumul dan menikmati bibir pasangan mereka itu.

“Alright, Ladies. I’ll join you again!” tutur Mr. Wang sambil terkekeh-kekeh.
PLAAK! Telapak tangan Mr. Wang yang besar segera menampar bongkahan pantat Lei sehingga Lei terhenyak sesaat.
“Hngh!” Lei mengerang saat Mr. Wang meremas bongkahan pantatnya yang empuk.
“Give me a chance to taste my pretty princess, will you? Bitch!” bisik Mr. Wang di telinga Lei. Lei sama sekali tidak memprotes Mr. Wang, ia malah dengan patuh menurunkan tubuhnya dari tubuh Sandra.

Kini tubuh Sandra terpampang jelas mengangkang dihadapan Mr. Wang, siap untuk kembali disetubuhi. Vaginanya yang indah kini terbuka lebar akibat posisi mengangkang tubuhnya, vagina Sandra tampak sudah tidak sabar lagi untuk dimasuki penis raksasa Mr. Wang, terbukti dari cucuran cairan cintanya yang keluar meluap akibat rangsangan dan jilatan Lei sebelumnya.

Mr. Wang mengocoknya penisnya sejenak sebelum merebahkan tubuhnya disamping tubuh Sandra. Penis Mr. Wang tampak mengacung tegak dihadapan Sandra. Sandra sempat kebingungan dengan posisi tubuh Mr. Wang itu, namun Lei mengangkat tubuh Sandra bangkit dari ranjang itu.

Sandra tampak menunggingkan tubuhnya dalam posisi merangkak diatas tubuh Mr. Wang. perlahan-lahan, Lei menurunkan dan menegakkan posisi tubuh Sandra sehingga posisi tubuh Sandra dijongkokkan dihadapan penis Mr. Wang. Kalung dildo mutiara yang disumbatkan kedalam pantat Sandra tampak terjuntai keluar, menyisakan sebutir mutiara yang tersisa dan pegangan jari kalung itu. Kalung itu tampak bergoyang-goyang bagaikan ekor yang menggoda dihadapan Mr. Wang.

“Hnghh…” Sandra melenguh pelan saat penis Mr. Wang kembali memasuki vaginanya. Lei melipat kedua kaki Sandra yang terjongkok agar Sandra tidak kelelahan sehingga kaki Sandra kini dalam posisi berlutut dengan paha melebar.

“Move your ass, Sandra.” Perintah Lei. Sandra segera merespon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya, sehingga penis Mr. Wang terpompa didalam vaginanya.

“Uhh… nghh… aah…” Sandra mendesah-desah pelan merasakan penis Mr. Wang yang memenuhi tiap rongga vaginanya. Mr. Wang untuk sesaat menikmati gerakan Sandra, dibiarkannya Sandra bergerak sendiri untuk sementara. Lei hanya menyentil-nyentil memainkan pegangan cincin di kalung pantat Sandra, Sandra merasa tersengat-sengat sedikit akibat rasa sakit dan geli yang bercampur saat kalung pantatnya disentil-sentil oleh Lei. Perut Sandra terutama pusarnya terasa geli sedikit akibat kalung yang ada didalam pantatnya itu. Rasa geli itu sedikit memberikan sensasi tersendiri bagi Sandra.

“AAW!!” Sandra menjerit saat Mr. Wang tiba-tiba mencengkeram pinggang Sandra dan langsung menghunjamkan tubuh Sandra kedalam penisnya sedalam mungkin. Penis raksasa itu terasa menyentuh hingga kedalam rahim Sandra.

Mr. Wang langsung menggerakkan pinggang Sandra naik-turun dengan buas. Berbeda dengan sebelumnya, kini Sandra tidak lagi merasa kesakitan; justru sebaliknya, rasa nikmat segera menjalari tiap simpul syarafnya saat tubuhnya bertumbukan dengan penis Mr. Wang. Sandra menduga mungkin ini adalah pengaruh dari obat yang ditanamkan di vaginanya, karena vaginanya juga masih tampak mengeluarkan cairan cintanya beserta sejenis busa putih akibat reaksi obat itu.

“Aw… aaah… ah… aww…” Sandra menjerit-jerit penuh kenikmatan karena tusukan penis Mr. Wang didalam vaginanya. Bersamaan dengan pompaan keras Mr. Wang, Lei kini mulai menekan-nekan benang kalung yang tertanam didalam pantat Sandra. Akibatnya tekanan dikedua lubang selangkangannya membuat Sandra tidak bisa lagi mengontrol kondisi tubuh dan akal sehatnya. Tidak pernah terbayang di benak Sandra apabila artis yang amat dikagumi dan diidolakan di Indonesia seperti dirinya kini sedang melayani seorang pria tua renta seperti seorang pelacur murahan, dengan penis di vaginanya dan dildo anal terbenam di pantatnya.

“Aaah… al…most… almost… come…” desah Sandra saat merasa orgasmenya kian mendekat.
“Wait, let us come… together…” tolak Mr. Wang yang mengaburkan harapan Sandra untuk mencapai orgasmenya.
Mr. Wang bertindak dengan menghentikan gerakannya. Sandra membalas dengan menurunkan tubuhnya untuk menghunjamkan penis Mr. Wang ke vaginanya, namun Mr. Wang menekan telapak tangannya di pinggul Sandra, tenaga Mr. Wang yang kuat berhasil menahan gerakan pinggul Sandra. Bahkan Sandra tidak bisa menggerakkan pinggulnya seinci pun akibat tekanan telapak tangan Mr. Wang.
Sandra heran dengan tenaga Mr. Wang itu, bagaimana mungkin pria tua yang tampak ringkih itu bisa menahan total gerakan tubuh Sandra yang notabene jauh lebih muda dan seharusnya lebih bertenaga dari Mr. Wang. Bahkan saat ini stamina Mr. Wang jauh melebihi Sandra dan keperkasaannya yang menggagahi Sandra mungkin jauh lebih hebat dari pria berusia 30 tahunan.

“Nooo… Master… pleasee… let Sandra… cum… again… pleasee…” pinta Sandra dengan putus asa.
“No! You’ll cum if I want you to!” bentak Mr. Wang. Mendengar bentakan itu, Sandra tidak bisa berbuat banyak selain memasrahkan tubuhnya untuk dipermainkan Mr. Wang.

“Haakh!” Sandra menjerit saat merasakan seseorang memegang ujung kalung dildo didalam pantatnya itu. Sandra menurunkan pandangannya, namun ia tidak bisa melihat apapun karena selangkangannya tertutup oleh rok gaunnya. Sandra akhirnya menoleh kebelakang, dilihatnya jari telunjuk Mr. Wang sudah memasuki cincin kalung dildo tersebut. Mr. Wang terkekeh-kekeh saat melihat Sandra menoleh kebelakang. Tanpa dikomando, Mr. Wang mengepalkan tangannya dan mendorong masuk dildo itu kedalam pantat Sandra.

“KYAAAH!” Sandra kembali menjerit kesakitan saat mutiara dildo terakhir itu terbenam didalam pantatnya. Air mata Sandra kembali mengucur deras. Untunglah lempengan besi yang kini tertempel di bongkahan pantat Sandra mencegah seluruh kalung itu terbenam sepenuhnya didalam pantat Sandra.
Mr. Wang memutarkan kepalan tangannya seperti menyalakan mesin mobil, bedanya saat ini yang tengah dinyalakan adalah rasa nikmat dalam perut dan pantat Sandra.
Tubuh Sandra meliuk-liuk erotis bersamaan dengan putaran dildo dalam pantatnya. Sandra kini benar-benar melayang diatas awan dengan rasa nikmat di pantatnya itu, serasa ada rasa geli yang menggelitik pusarnya sementara pantatnya agak terasa geli dan sesak.

“Lei, it’s your turn.” Ujar Mr. Wang sambil melepaskan cincin itu dari jari telunjuknya dan memasangkan cincin itu ke jari telunjuk Lei. Lei mengepalkan tangannya dan memutar cincin itu sama seperti Mr. Wang sebelumnya.

“Hu… aachh… Mis… tress…” Sandra mendesah-desah saat Lei memutar-mutarkan cincin itu dalam pantat Sandra. Mr. Wang kembali melanjutkan pompaannya dalam vagina Sandra; kali ini, kecepatan pompaannya semakin ditingkatkan, sehingga Sandra semakin melenguh-lenguh keras.

“Aah! Ah! Aww… Aah!” Sandra menjerit-jerit dan kepalanya tampak menggeleng-geleng mengiringi hempasan tubuhnya diatas tubuh Mr. Wang.
“Oogh, here I come…” Mr. Wang menggeram sejenak sambil menekan turun pinggul Sandra sehingga vagina Sandra dimasuki penis Mr. Wang sedalam mungkin sementara kalung dildo itu menekan isi pantat Sandra. Tak ayal lagi, spema Mr. Wang pun kembali menyembur masuk dalam vagina Sandra, bahkan sebagian sperma itu meleleh keluar dari vagina Sandra, membasahi kelamin Mr. Wang dan Sandra.

Lei segera bertindak, dicengkeramnya pinggul Sandra dan kini giliran Lei yang menaik-turunkan tubuh Sandra. Lelehan sperma di penis Mr. Wang memberikan sensasi rasa panas dan licin dalam vagina Sandra. Sesaat setelah dipompa dengan penis yang dipenuhi sperma itu, Sandra merasa ada sebuah tekanan yang hendak meledak dari dasar vaginanya.

Lei lalu menarik pelan kalng dildo itu keluar dari pantat Sandra.
PLUP! “Awh!” Sandra menjerit kecil. Lepasnya sebutir mutiara dildo dari pantatnya memberi rasa geli bercampur lega yang menjalar seperti jalaran listrik yang menyetrum tubuhnya.

“OOOHH!” Sandra melenguh keras, seluruh otot dan simpul syarafnya menegang saat tekanan orgasmenya meledak dan menyemburkan rasa nikmat yang hebat kesetiap simpul syaraf dalam tubuh Sandra. Bersamaan dengan orgasme Sandra, Lei mengepalkan tangannya dengan erat dan menarik kalung dildo itu sekuat tenaga dari pantat Sandra. PLOOOOP! Demikianlah terdengar suara terlepasnya ketujuh butir mutiara dildo yang sudah lama terpendam didalam pantat Sandra.

“AAAKH!!!” Sandra pun menjerit pilu, anusnya seakan terkoyak oleh tarikan keras Lei yang menarik keluar seluruh mutiara dildo itu dari pantatnya. Rasa lega bercampur sakit menambah sensasi orgasme Sandra.
Sandra langsung ambruk diatas ranjangnya sesaat setelah orgasmenya mereda. Masih tersisa hasratnya untuk bercinta kembali, namun Mr. Wang keburu mengangkat pinggul Sandra dan melepaskan penisnya dari himpitan celah vagina Sandra.
“Uugh…” Sandra hendak bangkit untuk memanggil Mr. Wang agar kembali bercinta dengannya, namun tiba-tiba seluruh tubuh Sandra terasa kehilangan tenaga, seolah seluruh tulangnya telah terlolosi dari otot-otot tubuh Sandra. Sandra kembali ambruk karena keletihan, seluruh tubuhnya terasa pegal sekali.

“Aa…” Sandra hendak berbicara memanggil Mr. Wang, namun jari telunjuk Lei tiba-tiba menekan bibirnya.
“Ssh…” Bisik Lei pelan, memberi isyarat agar Sandra diam sejenak. Sandra pun mengurungkan niatnya untuk berbicara. Ia hanya bisa diam saat menatap Mr. Wang yang kembali memasangkan celana dalam dan celana panjangnya dengan berurutan.

“I feel really good, Jay! Do you have other girls?” tanya Mr. Wang pada Pak Sanjaya menanyakan tentang stok gadis lainnya yang dimiliki Pak Sanjaya.
“Well, depends on your payment, Sir!” Pak Sanjaya mengangguk tersenyum sambil mengeluarkan kotak cerutunya dan menawarkan sebatang cerutu ke Mr. Wang.
“Want some, Sir?” tanya Pak Sanjaya.
“Give me another virgin, will you? I’ll pay you tomorrow.” Jawab Mr. Wang sambil mengambil cerutu yang ditawarkan Pak Sanjaya dan menyalakan cerutu itu.
“Got it! Let’s go Sir! I’ll give you some girls from Malaysia this time.” Ujar Pak Sanjaya sambil mempersilahkan Mr. Wang untuk pergi ke tempat berikutnya.
“Excellent!” jawab Mr. Wang penuh semangat sambil merapikan jasnya. Kedua pria itu lalu berjalan keluar dari kamar Sandra. Sebelum keluar, Mr. Wang berhenti sejenak dihadapan kedua wanita yang masih terbaring diatas ranjang itu.

“What a pretty bride you are, Sandra! I like your service, I hope we can play together again next time!” puji Mr. Wang sambil merogoh koceknya dan mengeluarkan seikat uang Dollar Taiwan dan menyelipkan uang itu kedalam bra Lei.
“Make sure you wear that wedding dress again next time! It really suits you, love it!” lanjutnya sambil berlalu keluar dari kamar Sandra.

Sandra hanya menghela nafas kelelahan, harapannya untuk melanjutkan percintaannya pupus sudah. Setelah memastikan kedua pria itu sudah keluar dari kamar, Lei segera merangkul tubuh Sandra.

“Nyaris saja. Anda bisa diperkosa sampai pagi, obat yang diminum Mr. Wang itu obat kuat yang amat ampuh. Itu sebabnya stamina Mr. Wang bisa bertahan selama itu.” Jelas Lei pada Sandra
“Apalagi Mr. Wang dulu adalah mantan tentara, wajar saja tubuhnya sekuat itu walaupun sudah tua.” lanjutnya.
“Tapi… tapi…” protes Sandra.
“Jangan gegabah, saya melakukan ini untuk kebaikan anda. Pernah ada gadis Malaysia yang sampai pingsan karena stamina Mr. Wang. Saya tidak mau anda mengalami pengalaman seperti itu.” nasehat Lei.
“Ah…” Sandra tidak bisa membantah Lei, ia hanya terdiam saja dan kekecewaan tampak terpancar dari raut wajahnya.
“Jangan cemas, saya akan menemani anda semalaman ini. Kita bisa bermain bersama apabila anda mau.” Ujar Lei sambil tersenyum pada Sandra.

Mendengar ucapan Lei itu, Sandra kembali bersemangat, matanya tampak berbinar-binar.
“Mis… tress…” ujar Sandra pelan sambil tersenyum memanggil Lei.
“Anda senang menjadi budak saya?” tanya Lei. Sandra pun tersenyum manis sambil mengangguk kepada Lei. Lei segera mencium bibir Sandra dan kedua wanita itu pun memuaskan nafsu mereka yang tersisa dari pengaruh obat perangsang itu sebelum mereka berdua tertidur kelelahan.

Esok paginya, Sandra terbangun saat mendengar suara televisi yang dinyalakan. Perlahan Sandra membuka matanya dan dilihatnya Lei sedang menata sebuah nampan berisi makanan diatas meja kamar itu. Lei tampak sudah rapi dan penampilannya juga kembali seperti seorang sekretaris biasa, lengkap dengan kacamatanya. Penampilan Sandra pun sudah rapi kembali sementara semua aksesorisnya sudah dilepas, tampaknya Lei yang merapikan penampilan Sandra.

“Selamat pagi, ini sarapan anda.” Ujar Lei. Sandra merasa nada suara Lei kembali ‘normal’; ya, suara Lei kembali seperti biasanya, dengan nada rendah dan kesan dingin yang khas seperti saat mereka bertemu pertama kalinya. Lei seolah berubah menjadi orang lain, bahkan Lei yang semalam berada disamping Sandra seolah tidak pernah ada.

“Lusa nanti anda dijadwalkan untuk mengikuti program catwalk kita. Seperti janji Pak Sanjaya, anda akan kami tampilkan sebagai model mulai nanti lusa. Kita akan melayani klien anda berikutnya minggu depan. Sementara itu, anda akan kami tampilkan sebagai model.” Papar Lei tentang kegiatan Sandra berikutnya.

“Lei, kenapa nada suaramu berubah?” tanya Sandra penasaran.
“Ini perintah dari Pak Sanjaya. Saya harus menuruti perintah boss. Itu saja” Jawab Lei dingin.
“Silahkan nikmati sarapan anda. Saya akan menunggu diluar. Apabila anda ingin mandi, silahkan panggil saya; saya akan membantu melepaskan busana anda.” Lanjut Lei sambil beranjak pergi kearah pintu keluar kamar Sandra.

Entah bagaimana, saat mendengar kata-kata Lei yang terdengar seolah seperti seorang pembantu, Sandra merasa simpatik dengan nasib Lei. Pastinya sudah bertahun-tahun ia terpaksa bekerja di Taiwan dan sudah berkali-kali Lei dipaksa melayani berbagai lelaki hidung belang. Lei hanya diperlakukan sebagai alat semata oleh Pak Sanjaya dan tidak dianggap sebagai seorang wanita sama sekali.
Sandra bisa memahami betapa perihnya perasaan Lei yang terbuang oleh keluarganya, padahal Lei hanyalah seorang korban dari kelicikan Pak Sanjaya.
Sebagai sesama wanita, Sandra merasa tidak tega melihat nasib Lei yang malang itu. Tanpa sadar, muncul rasa haru dari dalam lubuk hati Sandra menghapus rasa bencinya terhadap Lei, apalagi Lei juga bisa dikatakan telah menyelamatkannya dari kebiadaban Mr. Wang semalam. Mungkin kalau tidak ada Lei, Sandra masih terus melayani Mr. Wang hingga saat ini.

“Lei! Tunggu!” tiba-tiba Sandra berseru memanggil Lei. Lei terdiam dan menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara panggilan Sandra.
“Apa ada yang anda perlukan?” tanya Lei
“Lei, apa kamu mau kembali ke Indonesia?” tanya Sandra pelan.
“Kenapa? Bukankah anda tidak ada urusan tentang saya? Anda akan dikirim pulang dua minggu lagi. Jangan khawatir, kami sama sekali tidak berniat membocorkan skandal anda.” tutur Lei dingin.

“Kalau saya pulang, maukah Lei ikut bersama saya?” tanya Sandra. Seketika itu pula Lei terhenyak mendengar tawaran Sandra.
“Saya akan mencarikan pekerjaan untuk Lei! Saya yakin, orang-orang di agen atau studio pasti butuh sekretaris tambahan!” tutur Sandra dengan serius untuk membujuk Lei.

Perkataan Sandra itu seketika menyentuh hati Lei. Lei tidak menyangka ada yang masih peduli dengan dirinya itu, walaupun sebenarnya Lei juga bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpa Sandra. Hati Lei pun luluh dengan kebaikan hati Sandra.
Lei tersenyum sekilas dan menoleh kearah Sandra. Dilihatnya Sandra masih terduduk diatas ranjangnya dengan busana pengantin yang masih lengkap menempel di tubuh Sandra.

“Mr. Wang benar, anda memang cantik seperti seorang putri dengan busana anda.” Tutur Lei sambil membuka pintu kamar Sandra.
“Tapi dia tidak tahu, hati anda pun cantik bagaikan seorang putri sejati.” Lanjut Lei sambil berlalu keluar dan menutup pintu kamar Sandra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar